Perjamuan Sengkuni

“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Tuan Tomon karena mau menghadiri perjamuan ini…,” Sengkuni memulai basa-basinya.

“Iya, iya. Aku terima rasa terima kasihnya. Karena biasanya perjamuan berarti akan ada proyek Nagari. Apalagi, Tuan Sengkuni reputasinya sudah terkenal. Pasti menguntungkan. Ha-ha-ha….”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buru-buru Sengkuni menanggapi agar tidak salah sangka, “Ee… sebenarnya saya sudah tobat. Saya insaf. Saya sudah berkebalikan dengan reputasi saya dulu. Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada Tuan Tomon, atas terpilihnya sebagai Adipati di salah satu Kadipaten Nagari Hastinapura.”

Tuan Tomon tercengang, segera ia ingin mengakhiri perjamuan ini, karena dinilai tidak menguntungkan, “Oh ya sudah kalau begitu. Segera hidangkan makanannya lalu saya akan segera beranjak. Karena urusan selamat-selamat ini saya anggap sudah selesai.”

Sengkuni segera memanggil kepala pelayan tadi untuk menghidangkan jamuan di meja. Demi melihat jamuan yang dihidangkan, Tuan Tomon terbelalak dan marah.

“Apa ini? Tempe, pete, klepon… makanan jelata, makanan ndeso, katrok. Tidak adakah hidangan lain?”

Sengkuni merasa kecewa, “Ini memang hidangan rakyat, Tuan Tomon. Hidangan ini sebagai simbol kerakyatan dan lesehan ini simbol keadilan. Persis! Sama persis seperti yang Tuan Tomon kampanyekan dalam orasi-orasi kemarin.”

“Bah! Drama macam apa pula ini! Yang merakyat ya rakyat, bukan pejabat! Keadilan itu dari pejabat, bukan dari rakyat!”

Dengan marahnya, Tuan Tomon segera menggulingkan meja jamuan sehingga semua makanan dan minuman yang tersaji jatuh berserakan, tumpah membasahi tikar. Sengkuni yang merasa terhina dengan sikap Adipati Tomon, kalap. Segera memanggil prajuritnya untuk menangkap Adipati Tomon. Rupanya, Adipati Tomon lupa, bahwa ia berhadapan dengan sesepuh Nagari, yang kekuasaannya tidak terbatas, tidak terjamah karena dilindungi langsung oleh seratus anak Kurawa sebagai pemilik Nagari.

“Prajurit! Tangkap dan eksekusi Tuan Tomon ini. Penjarakan ia tanpa peradilan, hukum dan tuduh ia di pengadilan untuk kasus penggelapan dana kampanye. Pilihan Adipati ulang kembali! Rakyat dan politisi Nagari pasti percaya, kalau laporan ini langsung dariku, Sengkuni.”

Ratapan minta maaf dari Tuan Tomon tidak cukup membuat Sengkuni membatalkan eksekusinya. Sengkuni kadung murka. Ia tak terbendung. Titahnya adalah sabda. Marahnya adalah petaka bahaya. Rakyat dan semua pejabat Nagari tidak berani menentangnya, karena ia adalah Dewan Syura terhormat Nagari Hastinapura.

Kepala pelayan yang sedang membersihkan hidangan yang dihamburkan Tuan Tomon tadi  bertanya kembali kepada Sengkuni.

“Jadi, bagaimana Tuan Sengkuni?”

“Bagaimana apanya?” Sengkuni balik bertanya.

“Tobat dan khilafnya tadi loh. Adipati baru dengan perubahan baru yang Tuan Sengkuni harapkan ternyata tidak sesuai kenyataan.”

Sengkuni terdiam. Setan, iblis, dedemit, kembali menguasai.

“Tobatnya dibatalkan!” dengan tegas dan mantap Sengkuni menjawab.

Jagad bergemuruh, gonjang-ganjing. Hitam putih kerlap-kerlip langit kembali bergoncang. Keadaan kembali menjadi normal, sediakala berotasi berputar pada sumbu porosnya. Setelah cerita tobatnya Sengkuni membuat peredaran raya jeda sejenak. Sengkuni telah membuat delapan penjuru mata angin kembali berembus. Angin kebaikan dan kejahatan berderai. Tidak searah, tapi membuat semesta dalang dan bumi pewayangan berjalan kembali sesuai pakemnya.

Tinggalkan Balasan