Perpisahan Santri karena Pandemi

Sepuluh hari berlalu, kabar santri akan dipulangkan kembali beredar. Tak bisa dielakkan, kali ini bukan sekadar kabar burung; tapi kabar duka bagi kami. Saat itu, jalan menuju asrama sangat ramai oleh adik-adik yang berlalu lalang, memberi tahu satu sama lain, bahwa mereka akan dipulangkan.

Tibanya di asrama, seketika suasana kamar pecah oleh tangisan. Bisa dibayangkan betapa kagetnya mendengar kabar itu, yang harusnya kami senang karena Ujian Tengah Semester telah selesai. Tidak hanya kami, asatidz-asatidzah dan semua jajaran pengurus pondok mulai dari mudir ma’had sampai ibu dapur pun merasa sedih dengan dipulangkannya santri. Dan pada akhirnya, seluruh santri harus dipulangkan atas keputusan Bupati Kuningan. Mau tidak mau, pihak pondok harus mengikuti peraturan yang berlaku agar tidak menimbulkan masalah yang berkepanjangan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bayangkan, siang itu, Sabtu 21 Maret 2020, seluruh santri hanya diberi waktu tiga jam untuk membereskan semua barang. Tapi tidak semua fokus membereskan barang. Ada yang berkeliling ke setiap kamar hanya untuk meminta maaf. Ada juga yang sibuk menyelesaikan masalah utang pituangnya. Waktu semakin menipis dan kami masih tidak percaya, menangis sejadi-jadinya, saling memeluk satu sama lain mengingat tahun ini adalah tahun terakhir kami di pondok. Apakah ini akhir dari cerita kami? Bukan perpisahan seperti ini yang kami inginkan. Tapi sedih itu terobati setelah mendengar pengumuman bahwa kelas 12 wajib datang ketika Ujian Nasional akan dilaksanakan. Kami bisa menerima walau hanya bertemu dengan teman yang sesuai jadwalnya.

Sebelum dipulangkan, seluruh santri diberi arahan atau taklimat oleh dewan pembina yang menyyinggung tentang qadarullah. Setelah itu kami diantar oleh semua staf pondok, seperti ibu asrama, asatidz dan asatidzah, ke lapangan tempat bus parkir. Saat menaiki bus dan melihat ke arah luar, ada penampakan yang tidak ingin kami lihat: seluruh staf pondok menangis menyaksikan kepulangan santri yang amat mendadak ini.

Diangkut dengan 47 bus, dengan biaya dari pondok, sore itu kami, seluruh santri, dipulangkan lebih cepat dari yang seharusnya.

Tinggalkan Balasan