Santri dan Perpustakaan
Inklusi adalah sebuah pendekatakan guna membangun sebuah lingkungan yang terbuka bagi siapa saja dengan latar belakang apa saja, baik dari sisi karakteristik, kondisi fisik, status sosial, suku, atau budaya yang berbeda-beda. Semangat yang sama dengan bapak pendidikan bangsa, Ki Hadjar Dewantara, yang mengedepankan prinsip pendidikan inklusif, di mana setiap individu, tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau kemampuan, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Perpustakaan sebagai komponen penting di lingkungan pendidikan meniscayakan pengembangan fungsi dan perannya di “jurang” keterbatasan itu. Fasilitas yang memadai dan setara bagi siapapun dengan latar belakang minat yang berbeda-beda.
Pesantren sebagai salah satu lingkungan pendidikan berbasis keagamaan di Indonesia juga harus menjadi aktor dalam pemanfaatan yang maksimal terhadap eksistensi perpustakaan. Saya sebagai salah satu alumni pondok pesantren cukup prihatin terhadap minat baca para santri.
Pada tahun 2021, tepatnya ketika KKN DR (dari rumah) karena Pandemi, teman saya mengamati atau lebih tepatnya meneliti minat baca di pesantren kami. Hasilnya, ternyata masih rendah. Dan tambah lagi dari pengalaman pribadi, sesering saya pergi ke perpustakaan pesantren, saya bertemu dengan santri atau teman yang itu-itu saja, tak ada perubahan.
Padahal jika dilihat dari keadaan di mana santri dilarang mengoperasikan gawai, saya rasa itu dapat meningkatkan ketertarikan kepada buku, misalnya jauh dari kesibukan bermain game atau medsos. Namun, faktanya minat santri terhadap buku masih lesu dan nir-gairah. Lalu apa faktornya? Lingkungan? Ya, lingkungan pastilah yang utama, disusul kemudian hal-hal lain seperti fasilitas atau kegiatan-kegiatan pendukung.
Ketika lingkungan di sekitar kita sudah dipenuhi oleh orang-orang yang membaca kapanpun dan di manapun itu, maka lambat laun kita akan tertarik untuk juga membuka lembar demi lembar sebuah buku, lalu mulai suka dan mencintainya. Riset Fadila Ita Qulloh W telah membuktikan itu. Fadila mengungkapkan bahwa, kegiatan membaca maupun meminjam buku dapat memotivasi santri untuk membaca buku bersama-sama, dan tentu saja menghilangkan rasa bosan ketika membaca buku.
