Pesantren, Cinta, dan Kemanusiaan

“Jas Merah” itu tertuju pada bagamaina para wali ketika berdakwah, membaur, bahkan mengakulturasi. Garis besar kultur kemenungsan (humanisme) inilah yang sebenarnya menjadi ide utama tulisan ini. Karena dampak dari tidak memahami dimensi religiusitas akan mengakibatkan pembatasan, pengkultusan, pembenaran sepihak, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, filosofi “kiai kampong” adalah gambaran bahwa Indonesia ini majemuk. Mengapa demikian? Kiai, kita tahu, sebuah predikat yang disematkan untuk orang yang arif, alim, bijaksana, dan musakani (keramat). Sedangkan, kampung selalu identik dengan hal-hal yang ada di akar rumput. Filosofi “kiai kampong” adalah mereka yang memiliki kearifan dan akal budi, sehingga pengetahuannya tidak membatasi diri untuk bisa bergumul dengan golongan masyarakat apa pun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Indonesia, dengan ragam suku bangsanya tentu memiliki dimensi religiusitas yang berupa nilai dan semangat mengasihi satu sama lain. Karena semua agama mengajarakan tentang cinta. Pesantren menjadi pusat pembelajaran cinta itu. Oleh karenanya, apa pun yang menjadi bagian pesantren adalah unsur-unsur yang menumbuhkan cinta. Dengan begitu dimensi religiusitas akan dapat dikenali dengan pendekatan cinta untuk kemanusiaan. Pesantren, santri, kiai, dan lain sebagainya adalah simbol dari cinta dan kemanuisaan itu sendiri.

Kultur memanusiakan manusia adalah satu modal utama dalam keberlangsungan kehidupan Islam. Kepemimpinan dan lokomotif penggerak yang menjadi dominan perlu untuk mennaamkan, menumbuhkan, pun menyemai-suburkan kultur memanusiakan manusia ini. Disadari atau tidak, pesantren turut serta menjawab PR ini.

Tinggalkan Balasan