Namun, terlalu berlebihan manakala mengatakan bahwa pesantren menjadi tempat paling aman. Secara kuantitatif tidak sedikit kejadian-kejadian di pesantren yang juga menghancurkan mental santri. Senioritas yang sudah langgeng selama puluhan tahun, misalnya, adalah realitas yang tidak bisa lupakan. Santri baru yang kerap mendapat intimidasi dari santri lama juga bukan kejadian langka di pesantren.
Kendati demikian, asa menjadikan pesantren sebagai solusi bagi kesehatan mental terbuka. Batas demarkasi antara pesantren dan media sosial serta gawai menjadi poin plus pada persoalan ini. Sadar atau tidak, gawai dan media sosial yang kita konsumsi menjadi salah satu penyokong terbesar problem kesehatan mental. Perasaan minder kerap kita alami ketika menggunakan media sosial serta banyak melihat pencapain orang.

Ini merupakan lanskap yang tidak akan pernah ditemukan di pesantren. Paling mentok hanya menemukan teman kelas yang kerap mendapat nilai bagus. Itu pun tidak setiap hari, maksimalnya setahun duakali. Artinya, dalam hal ini kans pesantren untuk menjaga mental para santri sedikit lebih lebar. Persoalannya hanya terletak bagaimana kultur dan lingkungan pesantren nantinya.
Di titik ini saya kira santri di pesantren menghadapi ambiguitas. Di satu sisi memang benar bahwa mereka tidak bermain media sosial secara rutin, namun kultur di dalam pesantren juga tidak seideal itu. Kendati begitu, di titik ini pula saya optimis dengan posisi pesantren, setidaknya mereka hanya perlu memperbaiki kulturnya.
Pesantren sebagai Solusi?
