Memetik Kesetaraan dalam Ibadah Haji

Kesetaraan sebagai nilai yang diarusutamakan oleh manusia modern dan agenda emansipasi tampak jelas dalam praktik ibadah haji. Jemaah haji laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama, yakni melaksanakan wukuf di Arafah dan Muzdalifah, mabit dan lempar jumrah di Mina, thawaf, sa’i, dan tahallul. Selain itu, menarik untuk menilik kesetaraan pada aspek-aspek lain yang ada dalam lingkup haji.

Mukti Ali Qusyairi
Mukti Ali Qusyairi

Nuansa Setara

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada saat haji tahun ini 2024, saya melihat dan merasakan secara langsung nuansa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang begitu kuat dan nyata di setiap aspeknya.

Pertama, dalam kepanitiaan haji hampir di setiap bidang atau tusi terdapat petugas laki-laki dan perempuan. Di tusi lansia, misalkan, saya menyaksikan langsung bukan hanya petugas laki-laki an sich, akan tetapi juga petugas perempuan menggendong atau mengangkat lansia yang tak sanggup berjalan dan tak ditemukan alat dorong.

Hanya, bedanya, petugas perempuan cuma menggendong lansia perempuan alias nenek-nenek dan tidak menggendong lanisa laki-laki alias kakek-kakek. Sedangkan, petugas laki-laki menggendong lansia laki-laki dan lansia perempuan.

Sebagaimana sahabat saya satu tim Sektor 2 Madinah, Amin Hidayatullah dan Idham Khalid, menggendong lansia nenek-nenek dan lansia kakek-kakek. Bahkan yang digendeong Amin Hidayat tanpa pandang bulu, ada yang bertubuh kurus dan kecil dan ada yang bertubuh besar dan tinggi. Semua diangkut tanpa merasa berat.

Amin Hidayat merasa takjub sendiri, kok bisa menggendong lansia yang gede dan tinggi di Madinah. Padahal waktu di tanah air menggendong istri sendiri saja tidak kuat atau sempoyongan. Mungkin ini fadhilah (keutamaan) dari Allah dan syafaat Rasulullah.

Di bagian transportasi pun ada petugas laki-laki dan perempuan. Para petugas perempuan dan laki-laki mengatur lalu lintas dan menertibkan jamaah haji yang mau masuk ke bus-bus yang terparkir di terminal bus shalawat di samping Masjidil Haram Mekah. Tukang parkir dan kerja-kerja pengaturan lalu lintas bus-bus di terminal yang biasanya identik sebagai pekerjaan laki-laki, tak berlaku bagi petugas haji.

Sedangkan bidang-bidang yang lain, seperti bagian konsumsi, pembimbing ibadah, akomodasi, linjam (perlindungan jamaah) dari kalangan militer dan kepolisian, tim kesehatan dari para dokter, seksi khusus Masjid Nabawi, dan lainnya sudah tentu terdapat petugas laki-laki dan perempuan, lantaran termasuk kerja-kerja yang sudah biasa dikerjakan oleh laki-laki maupun perempuan.

Tinggalkan Balasan