Belajar dari kitab klasik adalah penting. Di sisi yang lain kita harus waspada dan tidak lengah terhadap tantangan yang jauh lebih besar. Santri secara tidak langsung dituntut untuk kosmopolit. Dalam artian, wawasan yang dimilikinya tidak harus dan hanya bersumber dari kitab-kitab klasik. Persaingan dan masa depan pesantren juga bisa dimulai dari sana. Kita paham bahwa merawat tradisi lama adalah keharusan. Namun, inovasi dan pembaruan merupakan keharusan lain. Pada akhirnya kita memang akan sedikit pelan-pelan mulai merangkak dari kitab klasik. Cepat atau lambat—meski tidak mengabaikan—kita juga akan menerima hal lain, selain dari kitab klasik.
Pada intinya, tulisan ini adalah sebuah usaha persuasif bahwa membaca tidak selalu yang bersumber dari kitab klasik. Bahwa belajar tidak harus berasal dari kitab dengan warna kuning manis. Kita sudah semestinya membuka ruang bagi pertaruangan wacana dan pemahaman lain, di luar apa yang ada dalam kitab klasik.

Namun, setelah dipikir ulang, ini juga mungkin akan sulit diterima apalagi di kalangan pesantren. Proses penyakralan terhadap teks kitab klasik adalah hal yang tak bisa dihindari lagi. Hal tersebut yang keseringan menutup ruang bagi pemahaman lain yang tidak bersumber dari kitab klasik. Pemahaman-pemahaman baru yang baru bergulir juga keseringan sulit mendapat tempat. Kitab klasik adalah kiblat di dalam dunia pesantren, secara tidak langsung.
