Mari sama-sama kita koreksi, sejauh mana hal pemikiran-pemikiran non-klasik dapat eksis di pesantren? Saya tidak bisa memberikan jawab yang jelas dan detail. Tapi, saya bisa memberi semacam satu ruang di mana semestinya pemahaman baru juga dikasih tempat yang nyaman. Mengapa harus demikian, mungkin akan banyak orang bertanya. Agar ketika sudah menghadapi dunia luar, para santri yang sudah lulus tidak kaget dengan hal-hal baru dan berbeda pula.
Akan menjadi suatu pemandangan yang menarik jika pesantren mulai mengkaji banyak hal yang juga fundamental di tubuh masyarakat, seperti ekologi umpamanya. Hal tersebut sungguh menarik.

Fakta di lapangan berkata, hanya sebagian kecil pesantren yang sadar akan hal itu. Hal sebagian kecil —atau bahkan tidak ada— pesantren yang mau mengakomodasi pemikiran dan paham di luar kitab klasik. Permasalahan kita hari ini sangat kompleks, tidak mungkin selesai dengan sebuah ibarat atau maqal dari kitab. Saya tidak hendak meremehkan isi dari kitab klasik, tetapi sekali lagi kita menghadapi suatu problem empiris yang kompleks. Problem-problem itu hanya akan selesai jika kita membuka jalan terhadap pemahaman lain, tidak melulu soal kitab. Saling melengkapi antara satu dan lainnya merupakan jalan paling ideal. Pesantren, bagaimanapun keadaannya, tetap menjadi harapan agama dan harapan untuk memecahkan problem sosial lainnya.
