Pesantren dan Model Pendidikannya

Tentu, ada pesantren yang belum mampu menyesuaikan diri, bukan semata kurangnya fasilitas, mutu pengajaran yang belum merata, atau sikap tertutup terhadap kritik. Tetapi, kelemahan itu bukan karena pesantrennya “tradisional”, melainkan karena keterbatasan akses sumber daya.

Banyak pesantren justru menjadi pelopor pendidikan berbasis kemandirian — dengan koperasi, pertanian, atau usaha kreatif santri. Di sinilah pesantren menghidupkan kembali nilai ta’awun (gotong royong) yang juga merupakan nadi budaya bangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita tahu sejarah perjuangan pesantren di masa lalu sangat erat dengan perkembangan bangsa ini, perjuangan dan jihad memperjuangkan kemerdekaan dan kemandirian.

Jika pesantren dilihat dengan kaca mata kearifan, maka lembaga ini sejatinya bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat laku. Apalagi di masa lalu pesantren dikenal dengan peshastrian yang berarti kadewaguruan atau tempat membaca dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Dalam laku pesantren, kita menemukan gema falsafah sangkan paraning dumadi — kesadaran asal dan tujuan hidup. Santri datang bukan untuk sekadar mencari ilmu, tetapi mencari jalan pulang pada makna keberadaan. Setiap bangun pagi, zikir, pengajian, dan khidmah adalah cara menata harmoni antara jasmani dan ruhani.

Demikian pula ngelmu kasampurnan, yang dalam Islam sepadan dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), menjadi inti dari pendidikan pesantren. Ilmu bukan sekadar teks, tapi juga pengalaman. Belajar bukan hanya untuk tahu, tapi untuk ngerti lan ngrumangsani — memahami dan merasakan pemahaman itu dalam perilaku. Etos keseharian santri senantiasa dibangun untuk senantiasa belajar sabar, andhap asor (rendah hati), rukun, nrimo, dan memayu hayuning bawana — menjaga keseimbangan hidup dan harmoni dunia.

Itulah mengapa pesantren dan prinsip menghormati guru, semua yang berkaitan dengan guru tersebut, bahkan sampai apa yang dimiliki oleh guru tersebut. Ini menjadi bukti bahwa prinsip khurmat, atau mikul dhuwur mendhem jerru. Bahwa diri kita, ilmu pengetahuan kita, lahir bukan semata usaha kita tetapi ada stimulus yang melambari proses kita, dan itu dibangun oleh kiai, guru, dan orang tua kita.

Pesantren di perdesaan sering mengajarkan santrinya menanam tanaman, membersihkan lingkungan, berdagang dengan jujur, menolong masyarakat sekitar. Semua itu bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan praktik etika spiritual yang menautkan Islam dan kearifan Jawa dalam satu tarikan napas.

Dalam kerangka itu, pesantren tidak bisa disebut dogmatis, karena justru menjadi ruang sintesis antara agama dan budaya. Ia menjaga nilai, tapi juga menyerap hikmah lokal. Inilah yang membuat pesantren mampu bertahan lebih dari lima abad — karena ia tidak memusuhi zaman, melainkan menyapa zaman dengan laku bijaksana.

Mereka yang mengkritik pesantren sering berangkat dari semangat pembaruan, tetapi lupa bahwa perubahan sejati bukan sekadar mengganti bentuk, melainkan memperdalam makna. Pesantren mungkin tidak selalu cepat menyesuaikan diri, tetapi di situlah letak kebijaksanaannya, yaitu tidak terburu-buru, melainkan menimbang.

Seperti prinsip “At-ta’anni minallah, wal ‘ujlah minasy syaithan” — kehati-hatian datang dari Allah, ketergesa-gesaan dari setan. Justru dalam kesabarannya itu, pesantren menyimpan kekuatan moral yang jarang dimiliki lembaga modern; ketulusan, kontinuitas, dan kebersamaan. Ia bukan benteng masa lalu, tetapi taman nilai yang menumbuhkan manusia seutuhnya — manusia yang tidak hanya pandai berpikir, tapi juga tahu bagaimana berbuat baik, nguwongke uwong (memanusiakan manusia).

Pesantren tetap mengajarkan makna laku bagaimana menjadi manusia yang tahu arah hidupnya. Ia menjadi cermin dari kesadaran bahwa ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan, dan modernitas tanpa ruh hanyalah kesia-siaan. Dalam bahasa fikih, pesantren adalah ijtihad sosial. Ia adalah bagian dari suluk atau proses memantaskan diri. Keduanya bertemu dalam satu tujuan yaitu menjaga keseimbangan antara teks dan konteks, antara Tuhan dan manusia, antara zaman dan nilai.

Maka, ketika orang menuduh pesantren feodal, dogmatis, atau tertinggal, barangkali yang perlu diubah bukan pesantrennya, melainkan cara kita membaca tentang sebab di balik tembok dan serambi pesantren, tersimpan filosofi hidup yang justru paling modern — kesadaran bahwa kemajuan tanpa akar hanyalah kebisingan yang cepat berlalu.

Tinggalkan Balasan