Realitas-realitas tersebut bisa dilihat dalam beberapa tahun terakhir. Penampilan-penampilan yang sama sekali tidak mencirikan nilai pesantren justru ditampilkan dengan sangat percaya diri. Jelas, hal tersebut adalah sebuah tindakan profan yang bisa saja meruntuhkan citra pesantren di tengah masyarakat.
Saya pribadi pernah menangkap peristiwa-peristiwa tersebut (penampilan tidak senonoh), baik secara langsung atau tidak. Peristiwa yang masih bisa ditoleran —menurut saya— adalah ketika perayaan haflatul imtihan dibuat sebagai ajang pertunjukan dan persaingan dalam masyarakat hedon. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah berbincang dengan paman saya yang menetap dan berkeluarga di sebuah pulau.

Pada pulau tersebut (tanpa saya sebut nama) budaya hedon antar-masyarakatnya sangat pekat. Bahkan mereka saling bersaing dalam hal ekonomi dan saling unjuk gigi. Sifat gengsi yang sudah menjalar lantas sulit dilepaskan, bahkan ketika perayaan haflatul imtihan.
Di sebuah madrasah pada pulau tempat paman saya tinggal, setiap kali ada perayaan haflah (karnaval), para orang tua santri berlomba-lomba merias anaknya agar tampil paling bagus dari yang lainnya. Tak sedikit biaya yang digelontorkan, menurut penuturan paman bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta. Jumlah yang mungkin tidak terlalu besar bagi mereka dibanding harus bertekuk lutut dalam kegengsian. Biasanya mereka akan mengundang sendiri kuda-kuda sewaan, lengkap dengan drumband dan saronen-nya. Itu semua tentu tidak murah.
Realitas paling menjengkelkan saya temui di beberapa video yang beredar, di mana acara haflatul imtihan yang harusnya khidmat dengan pengajian dan kehangatan silaturrahmi, malah terkontaminasi dengan biduan-biduan yang tampil lengkap dengan saweran dari penonton. Saya tidak sedang mempermasalahkan biduan atau sawerannya, namun yang menjadi persoalan adalah latar tempat dan suasana pada pertunjukan biduan-biduan itu.
