Memesantrenkan Hati
Pesantren merupakan komunitas keilmuan berbasis akhlak yang seharusnya mampu menjadi salah satu tempat menempa manusia menjadi lebih beradab dan beretika. Namun akhir-akhir ini kepercayaan masyarakat sedikit goyah karena berbagai kasus-kasus amoral yang mencatut nama pesantren.

Kasus penganiayaan juga terjadi di pesantren daerah saya, bahkan sampai menewaskan korban. Saya rasa tidak mungkin menyebut nama pesantren tersebut. Yang jelas, kasus-kasus penganiayaan atau pelecehan seksual di dalam pesantren ini perlu menjadi rambu-rambu dan menjadi titik kritis.
Hal ini menyangkut tentang keberlangsungan generasi mendatang yang akan menggantikan generasi-generasi sebelum mereka. Maka membekali mereka dengan ilmu keagamaan sangatlah penting, terutama sentuhan-sentuhan akhlak yang baik harus tertanam pada diri mereka.
Mengutip ungkapan dari ulama sepuh, KH Sahal Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati pesantren adalah komunitas etik dan keilmuan. Keduanya telah berjalan beriringan sebagai aspek yang tidak bisa dipisahkan di dalam masyarakat, sehingga pesantren tidak hanya memiliki kultur keilmuan, tetapi juga sebagai komunitas berbasis akhlak.
