Beliau juga menambahkan bahwa kedisiplinan ini harus ditanamkan dan ditingkatkan dalam diri para dewan guru dan santri. Sebab, maju tidaknya sebuah pesantren salah satunya tergantung dari kedisiplinan. Bahkan, beliau pula mempersilakan bagi karyawan, guru atau dosen yang tidak mau bekerjasama dengan kedisiplinan yang telah diterapkan di Nurul Qarnain supaya mengajukan mutasi atau membuat surat pengunduran diri.
Sedangkan, KH Yazid Karimullah, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, mengamini pemaparan sebelumnya. Beliau juga mengisahkan kunjungan sekaligus silaturrahminya ke Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH Ahmad Fuad Nur Hasan, seminggu yang lalu. Dalam kisahnya, beliau menceritakan bahwa kedisiplinan di Pesantren Sidogiri betul-betul luar biasa. Bagi santri yang telat balik ke pesantren selama tujuh hari tanpa uzur (misalnya), nama santri tersebut langsung dicoret.

“Maksudnya dicoret itu dimulai dari pertama lagi. Semisal santri tersebut adalah siswa kelas tiga, maka diturunkan ke kelas awal, yaitu kelas satu. Semisal santri itu sudah semester tujuh, tapi telat saat balik ke pesantren, maka turun lagi ke semester satu. Mungkin suatu saat ini juga bisa diberlakukan di sini,” tuturnya.
