Keempat, etical value (nilai etika). Ethical value yaitu nilai-nilai yang berbaisi pada nilai kebaikan. Ahmad Amin mendefinisikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju manusia di dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Kelima, estetical value (nilai estetik). Estetical value yaitu nilai yang berbasis pada nilai keindahan. yakni mencintai keindahan secara universal, indah dalam bersikap, berucap, bertindak. Atas dasar itu, pendidikan akan mencerminkan sikap dan perilaku yang ramah, santun, toleran, menghargai orang lain, dan cinta kepada sesama. Orang yang tidak senang pada orang lainlah yang paling banyak menjumpai kesulitan dalam hidupnya dan mengakibatkan kesusahan pada orang lain. Dari orang semacam itulah timbul kegagalan seluruh manusia.

Keenam, teleological value (nilai kemanfaatan). Teleological value adalah nilai- nilai yang lebih mengedepankan unsur-unsur manfaat. Nilai-nilai ini akan senantiasa melahirkan sikap, ucap, tindakan, serta keputusan yang bermanfaat baik secara individual maupun komunal.
Miniatur Keindonesiaan
Apabila keenam nilai tersebut tumbuh dalam jiwa santri, maka dapat dipastikan santri akan memiliki sifat-sifat beriman, bertakwa, tawakal, cerdas, jujur, adil, amanah/tanggung jawab, disiplin, dan ikhlas.
Kehidupan di pesantren memiliki nilai yang tinggi yang mana para santri dari segala daerah mulai Sabang hingga Merauke berkumpul menjadi satu. Secara tidak langsung, interaksi sosial santri akan banyak bersinggungan dengan suku, budaya, dan etnis bermacam-macam. Di sinilah konteks pesantren sebagai miniatur kehidupan kebinekaan Nusantara.
Miniatur kehidupan santri yang telah terbiasa dengan perbedaan dan keragaman ini akan menuntun dan mendewasakan santri yang kelak akan kembali pulang ke daerahnya masing-masing. Di sinilah peran pesantren dalam menanamkam nilai-nilai yang menghargai dan menghormati keberagamaan.
Dengan demikian, pada wilayah nilai pluraritas masyarakat Indonesia, santri lebih cakap melihat realitas sosial budaya dan realitas sejarah keragaman di Nusantara. Di sini pesantren, menanamkan nilai-nilai untuk pembentukan karakter yang berwawasan luas dari pada pelajar yang belajar di luar pesantren. Hal ini terbukti banyaknya para alumni pesantren yang tersebar di Nusantara, yang mampu membina masyarakat melalui pendidikan dan pembelajaran.
