Pesantren sebagai Subkultur, Masih Relevankah?

Ketika Gus Dur menyebut pesantren sebagai subkultur, ia tidak sedang meletakkan pesantren pada posisi lebih rendah daripada kultur nasional. Ia sedang memainkan siasat. Kata itu bekerja seperti pagar lentur: tidak menolak kehadiran negara, tetapi memastikan negara tidak ikut menentukan isi rumah pesantren. Istilah subkultur diterima negara karena terdengar teknokratis dan ilmiah, namun di tangan Gus Dur, istilah itu berubah menjadi alat negosiasi: cara mengamankan otonomi pesantren tanpa perlu bersuara keras.

Subkultur adalah siasat untuk hadir dalam gelanggang, tanpa hanyut dalam hiruk-pikuknya. Seperti akar yang memeluk bumi, ia dekat dengan pusat tanpa menyerahkan kedaulatan dirinya. Istilah itu adalah jubah kesederhanaan yang menyelubungi keteguhan prinsip. Pesantren tetap menjadi dirinya sendiri justru karena ia memilih posisi yang tampak kecil. Bagi dunia modern, subkultur adalah kategori ilmiah. Bagi Gus Dur, ia adalah strategi bertahan —sebuah pagar simbolik yang berkata: “Kami terbuka, tetapi kami punya cara sendiri memahami dunia.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pilihan istilah itu juga selaras dengan akhlak kepesantrenan. Di pesantren, kekuatan tidak datang dari klaim ketinggian, melainkan dari ketenangan mengerjakan yang diyakini benar. Tawadu menjadi logika kultural. Menyebut diri kultur terdengar seperti klaim. Menyebut diri subkultur adalah kerendahan hati sekaligus siasat. Dengan begitu, pesantren bisa merapat ke pusat percakapan nasional tanpa kehilangan kemerdekaan batinnya.

Subkultur, dalam pengertian Gus Dur, adalah cara untuk menentukan jarak. Jarak itu yang menyelamatkan pesantren dari penyeragaman Orde Baru. Pesantren menerima perubahan, tetapi menolak penyeragaman. Pesantren membuka pintu, tetapi tidak menyerahkan kunci.

Dari Subkultur ke Pilar Budaya

Pesantren selalu berjalan di tepi sejarah: dicurigai kolonialisme, disalahpahami modernisme, dan hendak dijinakkan oleh negara. Namun justru di tepi itulah pesantren belajar menata jarak. Tidak terlalu dekat untuk kehilangan kebebasan; tidak terlalu jauh untuk kehilangan relevansi. Dari tepi itulah ia melihat, mengingat, dan bertahan.

Sekian lama pesantren hidup sebagai subkultur, bukan karena ia kecil, tetapi karena ia memilih untuk tidak duduk di pusat kekuasaan. Ia lebih percaya pada daya sabar daripada kuasa. Ia menanam bukan untuk dilihat, tetapi untuk menghidupi. Dalam diamnya ada keteguhan; dalam jaraknya ada hikmah. Saat dunia bergerak tergesa-gesa mengejar kemajuan, pesantren justru bergerak dengan ritme yang tidak ingin kehilangan jiwa: pelan, tetapi dalam.

Namun zaman berubah. Pesantren tidak lagi berdiri sebagai enclave spiritual. Kini ia membentang menjadi jaringan pendidikan, lembaga sosial, pusat pengetahuan, simpul ekonomi, medan dakwah kultural, dan sumber daya politik. Ia hadir di ruang digital, di ruang kebijakan, di ruang masyarakat sipil. Ia hadir di kota, di desa, bahkan di ruang-ruang yang tak tersentuh negara. Tanpa mengubah ruhnya, pesantren kini ikut mengubah arah bangsa.

Jika dulu pesantren bertahan di pinggir untuk menjaga kebebasannya, kini ia berdiri di tengah untuk menjaga nilai. Pesantren tidak lagi menjadi alternatif dari kultur Indonesia. Ia menjadi salah satu sumbernya. Di saat dunia terperangkap dalam sikap tergesa-gesa, pesantren memelihara yang lambat. Di saat dunia mengagungkan efisiensi, pesantren merawat kedalaman. Ia tidak menawarkan kesempurnaan, tetapi keutuhan. Tidak menjajakan jawaban, tetapi membuka jalan.

Subkultur adalah cara pesantren bertahan dalam ketidakadilan sejarah. Kultur adalah cara pesantren berdiri ketika sejarah akhirnya mendengarkan. Pesantren kerap dianggap homogen, namun ada heterogenitas dalam kehomogenannya. Ada sikap terbuka, ada spirit keragaman, yang membuatnya cair dan dinamis, dengan menjaga ruh budaya dalam bingkai nilai-nilai yang diyakininya —dengan keringat, doa, dan air mata.

Kini, pesantren tak lagi meminta izin untuk bicara. Suaranya menggema, merasuk ke sumsum kebijakan, dan membentuk denyut nadi batin bangsa. Dari posisinya yang dulu di pinggir peta, pesantren bukan sekadar kembali. Ia telah melompat ke panggung utama —bukan sebagai figuran, melainkan sebagai salah satu sutradara yang menentukan alur kisah Indonesia.

Tetapi tepat di titik itulah, tantangan baru terbentang: politisasi, radikalisme, komersialisasi, pendangkalan budaya, algoritma digital —spiral pendefinisian diri yang belum selesai.[]

Cinangka, 5 November 2025.

Tinggalkan Balasan