Pesantren: Sejarah dan Pergeseran Tradisinya

Hal ini menunjukkan bahwa pesantren selayaknya cagar budaya pengetahuan dan tradisi sosial keberagamaan, masih selalu relevan dalam setiap perkembangan kehidupan. Lain halnya ketika pesantren sudah memasuki isu-isu verbal yang sangat erat dalam dunia sosial, kemasyarakatan, ekonomi, perempuan, dan kebudayaan. Hal itu merupakan out come sekaligus out put dari pembelajaran di pesantren itu sendiri.

Artinya, dengan pendekatan sejarah, pesantren adalah aset sejarah yang tidak boleh hilang dalam arti yang sebenarnya. “Hilang” secara tradisi, budaya pembelajaran, dan konteks sosialnya. Justru yang kemudian kabur dari tradisi itu sendiri adalah sistem yang mulai bergeser seperti halnya pendidikan pada umumnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adanya pengukuran dan penilaian atas pesantren itu sendiri, seperti halnya jaminan mutu dan lain sebagainya. Atau pesantren bukan lagi bermakna nilai, karena hanya aspek pendidikan saja yang menjadi jurus utama dalam pesantren. Kita bisa melihat ini dalam konteks sosialnya, di mana ada semacam gerbong atau grup yang kemudian menjadikan beda antara santri satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian, kemurnian tradisi pesantren agaknya tertutupi oleh konteks-konteks yang bersifat citra saja. Atau jangan-jangan perubahan ini senada dengan apa yang disinggung oleh Clifford Geertz bahwa pesantren hanya semacam consensus gentium (sebuha kesepakatan dari semua orang) disadari ataupun tidak.

Jika tradisi pesantren seperti yang disinggung Zamakhsyari adalah sebagai pola kehidupan di dalam pesantren, maka perlu kita lihat kembali bagaimana pola tersebut, apakah masih sejalan dengan pesantren sebagai the great traditional education atau justru kabur dengan hiruk pikuk perkembangan zaman, teknologi, pun sosialnya.

Tinggalkan Balasan