Pewaris Takhta

“Oiya, saya dengar sawahmu terkena pembebasan lahan ya,” kata ibuku kepada Pakde.

“Iya, dan banyak sawah-sawah yang lain yang juga terkena imbasnya,” jelas Pakde.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di daerah kami memang sedang santer diberitakan bahwa akan ada proyek pembangunan jalan tol sehingga banyak sawah warga yang terkena pembebasan lahan. Memang hal itu akan berdampak negatif sekaligus berdampak positif bagi warga sekitar sini. Dampak negatifnya, mereka akan kehilangan sebagian mata pencaharian karena sebagian besar warga sekitar sini bekerja di sawah. Dampak positifnya, sawah tersebut dibeli dengan harga yang tinggi, bisa-bisa dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dari harga pada umumnya sehingga bisa untung banyak.

Tetapi kalau bagi Pakde Karso tentu hal ini bukan menjadi masalah. Beliau sendiri sudah bekerja sebagai PNS di kota ini. Selain itu, sawah beliau juga banyak. Dengan dibelinya sawah beliau itu, apalagi dengan harga berlipat-lipat akan semakin menambah daftar investasi kekayaan Pakde Karso.

“Ya sudah, saya pamit pulang dulu,” kata Pakde Karso.

“Iya, iya,” jawab ibu.

Kami pun segera melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Seperti biasa, hari-hari ibu selalu dimulai sangat pagi, pagi buta bahkan. Bagaimana tidak, ibu harus berangkat ke pasar dulu untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak pada pukul tiga dini hari. Setelah sampai di rumah, ibu langsung memasaknya karena setiap pagi akan ada orang-orang yang akan membeli sarapan di warung ibu. Setiap pagi aku juga selalu menemani ibu untuk membantu memasak. Maklum, ibu tak mau mencari karyawan demi bisa meraup untung banyak. Jadi, aku dan adikkulah yang siap sedia sebagai karyawan ibu. Hanya itu yang sementara ini bisa kusumbangkan kepada ibu.

Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa semua sawah yang terkena dampak pembebasan lahan telah berhasil dibeli oleh pihak developer. Namun, ada satu yang masih bermasalah, yaitu sawah Pakde Karso. Kabarnya, sawah tersebut masih dalam sengketa. Belum ada surat-surat lengkap. Wah, bagaimana mungkin, dulu waktu Pakde Karso membeli sawah itu tanpa surat-surat lengkap? Apalagi Pakde Karso juga orang terpelajar, pasti beliau lebih berhati-hati dalam pembelian sejumlah aset besar. Tapi kenyataannya, seperti sekarang ini, ibu yang mendengar kabar ini juga merasa heran.

Suatu malam, ada Pak Lurah setempat yang mendatangi rumah kami. “Tumben ini Pak Lurah ke rumah saya, pasti ada sesuatu yang penting yang ingin Bapak bicarakan,” kata ibu kepada Pak Lurah.

“Iya, ada hal penting yang akan saya bicarakan kepada ibu,” kata Pak Lurah. “Jadi, begini Bu. Bu Aminah pasti sudah mendengar berita tentang terhambatnya pembelian sawah Pak Karso beberapa waktu ini. Itu karena sawah Pak Karso belum bersertifikat dan dalam catatan desa, nama pemilik sawah tersebut adalah atas nama Bapak Karno, almarhum suami ibu sendiri,”  Pak Lurah melanjutkan.

Sontak ibu langsung kaget mendengar hal itu. Dulu memang almarhum ayah pernah memiliki beberapa petak sawah, tetapi kami yakin, sawah itu sudah dijual, salah satunya kepada Pakde Karso.

Kami juga yakin jual-beli yang terjadi antara ayah dengan Pakde Karso sudah melalui jalur yang benar. Tak mungkin Pakde Karso akan berbuat curang kepada keluarga kami.

Tinggalkan Balasan