Sufistik Melawan Ekstremisme
Sifat dari ekstremisme sendiri ialah memaksakan setiap kehendak kepada semua orang. Cenderung memakai cara keras dengan mengedepankan ancaman. Maka tidak jarang, yang timbul adalah peperangan dan pengkultusan diri sebagai seseorang yang paling benar. Budaya seperti ini apabila diteruskan, hanya berujung pada kehancuran dunia. Satu demi satu akan tumbang akibat perang saudara.

Kita telah banyak melihat contoh ekstremisme bertebaran. Tindakan terorisme dan radikalisme adalah contoh nyata bagaimana ekstremisme mampu membuat kehancuran yang sekian besarnya. Ekstremisme tidak memandang hakikat kemanusiaan, yang ada hanyalah keikutsertaan seseorang pada kelompoknya. Hal ini menjadi tolok ukur dasar untuk mengkonfirmasi pihak tersebut sebagai kawan ataupun lawan.
Pemahaman sufistik, dalam banyak hal akan menggeser nalar ekstremisme yang begitu brutal. Sufistik dalam tataran keilmuan, membuat manusia lebih cerdas dan berdaulat. Manusia menjadi sosok yang dapat menghargai segala bentuk perbedaan. Membuat manusia lebih menerima bahwa kebenaran bukan hanya satu, dan untuk kelompoknya saja. Kebenaran adalah bentuk relatif yang kapan saja bisa berubah sesuai keadaan sekitarnya.
Maka pokok sufistik inilah yang nantinya akan menghantam gelombang ekstremisme yang menggejala di tubuh Islam itu sendiri. Dan keikutsertaan Maroko dalam gelaran Piala Dunia kali ini, adalah sebuah anugerah sekaligus pertanda bahwa nilai-nilai sufisme tersebut perlu dihidupkan kembali. Islam memerlukan sufisme untuk bangkit dan memimpin dunia menuju kedamaian.
