Corak sufisme dari Maroko menjadi magnet kuat, bagaimana Islamisme dalam gelaran Piala Dunia kali ini memang benar-benar hidup. Hal ini ditambah dengan ditunjuknya Qatar sebagai tuan rumah, menambah pengenalan nilai-nilai keislaman semakin tajam. Pada akhirnya, Islam menjadi agama yang paling disorot pada perhelatan Piala Dunia kali ini.
Sufisme dan Ruang Terbuka

Corak sufisme dari Maroko membawa kekayaan pemikiran di masyarakat itu sendiri. Dengan adanya nilai-nilai sufistik tersebut, Maroko mampu hadir sebagai negara yang terbuka terhadap perbedaan. Nilai sufistik secara tidak langsung akan berpihak kepada kebenaran, cinta kasih, perdamaian, yang meorientasikannya pada dialog terbuka serta membangun jembatan keilmuan yang harmoni antara sesama manusia.
Kita bisa melihat bagaimana Maroko tidak alergi pada budaya Barat yang secara keyakinan jelas berbeda. Akan tetapi, mereka mempunyai pendirian yang matang dalam hal pengaplikasian budaya tersebut pada diri mereka. Maroko tetap menghormati khazanah kebudayaan yang dibangun di dalamnya. Kemudian mereka juga berdialog, dengan mempromosikan kebudayaan mereka kepada negara Barat. Pokok komunikasi seperti inilah, yang menjadi nilai dari sufisme itu sendiri.
Sufisme lebih tertarik dalam pengkajian keilmuan secara terbuka. Tidak menjelek-jelekkan kepercayaan lain, namun kuat memegang kepercayaan sendiri. Jelas indikator seperti inilah yang dibutuhkan Islam di masa sekarang. Di mana Islam dengan corak sufistik, akan memiliki potensi yang lebih besar dalam memimpin dunia menuju suatu kemajuan. Mengurangi peperangan dan lebih fokus pada diskusi-diskusi keilmuan.
