Kembali terlintas, bagaimana dinginnya buah semangka yang merah. Tetapi, saya lebih suka yang warna kuning meski tidak dingin. Menurut saya, semangka merah terbuat dari darah. Itulah yang membuat saya kurang begitu menyukainya. Di usia yang kurang lima tahun, saya sudah mengetahui tata cara memakan buah semangka dengan baik dan benar. Bahkan, airnya tidak sampai mengenai baju. Itu pencapaian terbaik anak seusia saya.
***

Berbeda dengan saya, perihal biji yang akan tumbuh di dalam perutnya tidak pernah hilang dari benaknya. Ia sudah terlalu dewasa untuk cerita-cerita masa kecil itu. Mungkin pepatah benar, bahwa cerita yang disampaikan pada anak kecil seperti mengukir di atas batu. Cerita itu tidak akan pernah hilang dari kepalanya dan membentuk semacam epitaf.
Ia pernah bercerita bahwa pacarnya pernah menertawakan. Sebabnya, saat ia kencan dan memakan anggur merah ia justru mengeluarkan bijinya yang kecil. Di saat yang sama, pacarnya justru memilih menelan. Perempuan, yang konon berdarah Persia itu bertanya, mengapa ia tidak menelannya.
“Waktu itu aku menjawab ‘Kalau ditelan, bisa-bisa di dalam perut biji ini tumbuh.”’
Saya terbahak. Ia masih terlalu anak kecil untuk usianya yang hampir kepala dua.
Semenjak itu pula, pacarnya tidak pernah mengajak makan buah yang berbiji setiap kencan. Mereka lebih memilih sate plecing di restoran khas Bali. Meski pacarnya berdarah Persia, wajahnya sangat Indonesia. Kulit sawo matang, rambutnya dibiarkan tanpa penutup. Saya juga lihat rambutnya dicat berganti-ganti setiap datang ke rumah diajak olehnya.
Mereka sangat akur, saya harap tidak hanya berhenti di situ. Saya ingin jika mereka sampai ke pelaminan, tentu ibu akan senang. Sudah lama ibu ingin punya menantu perempuan. Semua menantunya berjenis kelamin pria. Meski, saya masih ragu-ragu tersebab adik saya itu masih terlalu dini cara kerja dalam kepalanya. Tentu, masih soal biji yang tertelan dan jadi pohon dalam perut.
“Ibu hanya bercanda waktu itu, Cil.”
Oh iya, saya memang memanggilnya Cil. Namanya Abiseka, tetapi saya tidak peduli namanya. Bagi saya, nama hanya pembeda manusia yang satu dengan yang lainnya. Jadi, saya menggunakan ‘Cil’ sebagai pembeda baginya. Ia juga tidak keberatan dan menut-manut saja.
“Tetapi ibu kan tidak senang bercanda, ka.”
“Ibu juga sering mencubit kalau aku makan delima.”
