Pohon Salam*

Kumandang azan Isya terdengar saling bersahutan dari masjid dan beberapa musala saat ia menyetater motornya seusai pamit disusul kemudian sedompol kebahagian merekah dengan begitu indah dalam dadanya karena tampaknya ia telah membahagiakan tetangganya itu. Kebahagiannya kian merekah indah saat teringat sore tadi, setibanya di rumah, ibunya tampak amat bahagia saat menerima pemberiannya hingga-hingga agak bergetar tangannya saat menerimanya. Boleh jadi, demikian benaknya, ibunya amat gembira pertama kali menerima uang dari anaknya atau karena anaknya kini terkait uang telah mandiri juga mau berbagi dengan kerabat dan tetangga. Sementara adiknya tidak kalah bahagia, begitu uang di tangan sekonyong-konyong tubuhnya gidroh-gidroh alias jingkrak-jingkrak ke sana ke mari sembari mengatakan bahwa uang tersebut akan ia tambahkan pada tabungannya untuk membeli sepeda.

“Bukan. Bukan saya yang menanamnya…” jawab saudara tetangganya itu seusai ia memberitahu maksud kedatangannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mendengar hal tersebut, benaknya bertanya-tanya, jika demikian, ayahnyakah yang menanamnya? Padahal, setahunya, ayah orang itu telah meninggal dunia; jika demikan apakah uang tersebut bakal diinfakkan dengan niat menghadiahkan pahalanya untuk ayahnya?

Kemudian seusai ia menanyakan, ayahnyakah yang menanam, saudara tetangganya itu menjawab, “Bukan ayah saya yang menanamnya…”

Kian terdorong rasa penasaran, buru-buru ia bertanya, “Lalu siapa?”

“Seekor burung.”

Rada tercengang ia menimpali, “Hah, seekor burung? Seekor burung yang menanamnya?”

Sementara saudara tetangganya itu mengangguk mantap, sehelai bingung melesat dalam benaknya, bagaimana cara berterima kasih pada seekor burung? Seiring bisikan itu kembali mendesaknya untuk tidak usah repot-repot, batalkan saja niatnya.

Suatu hari, demikian saudara tetangganya itu bercerita, ayahnya tengah mencangkuli pekarangan rumahnya dengan niat menanam pohon mangga. Sekonyong-konyong sesuatu terasa menimpuk kepalanya yang refleks ia mendongak melihat seekor burung terbang melintas dengan begitu asyiknya. Mula-mula ia rada jengkel seiring dugaan bahwa kotoran burung yang tadi menimpanya. Akan tetapi, begitu tahu bahwa itu adalah biji pohon salam, kejengkelannya seketika sirna.

Kendati demikian, mula-mula ia ingin membuangnya, karena apabila tumbuh bakal mengganggu pertumbuhan pohon mangganya. Akan tetapi, seusai sekonyong-konyong terkenang sewaktu kecil ia bersama teman-temannya dengan penuh kegembiraan acap memanjat pohon-pohon salam yang tumbuh subur di pekarangan-pekarangan kampung itu demi memakan buahnya dan mempertimbangkan boleh jadi kelak pohon salam bermanfaat untuk anak-anaknya, ia membiarkannya tetap di situ lalu menggeser posisi yang bakal ditanami pohon mangga.

One Reply to “Pohon Salam*”

Tinggalkan Balasan