Cerita tersebut memantik kembali bimbang muncul-tenggelam dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang.
Sesampai di rumah, seusai salat Isya, seiring bingung harus berbuat apa demi menunaikan niatnya—sementara yang ada cuma adiknya yang masih bocah—, maka ia ceritakan pada adiknya perihal unek-uneknya.

Antusias sekali adiknya itu menyimak cerita tersebut, terutama saat mendengar bahwa penanam pohon salam adalah seekor burung. Mula-mula si adik membayangkan, si burung dengan amat telaten mematuk-matuk dengan paruh dan mengoker-oker dengan kakinya secara bergantian menggali tanah untuk kemudian memasukan bibit pohon salam ke dalam lubang tersebut dengan cara, sementara kedua sayapnya mengatup menjaga bibit pohon tetap berdiri, satu kakinya mengoker-oker menimbunnya dengan tanah. O, betapa sukar perjuangannya! Untuk beberapa saat si adik memajang mimik kasihan, membayangkan si burung kerepotan dan kelelahan. Akan tetapi kemudian, karena telah berhasil menanam sebatang pohon, si burung melayang-layang di angkasa dengan penuh kegembiraan. Sampai di sini, si adik, seiring kegembiraan mengguyur benaknya untuk kemudian ia tampakan pada wajahnya, sekonyong-konyong berjalan setengah berlari mengitari ruang tengah itu sementara kedua tangannya ia bentangkan untuk kemudian dengan begitu luwesnya ia kepak-kepakkan.
Tidak ia nyana, peragaan adiknya itu sebagai seekor burung yang terbang dengan penuh kegembiraan, merajut pikirannya bertanya-tanya apa yang bisa membahagiakan seekor burung?
Selanjutnya, alhamdulillah—segala puji hanya milik Gusti Allah Ta’ala—, demikian benaknya seiring selembar solusi hadir atas niatnya: karena burung suka bersarang di pohon dan sebagian pohon menghasilkan makanan bagi burung, bagaimana kalau uang tersebut untuk membeli bibit-bibit pohon untuk kemudian ditanam?
Ia semakin mantap, seusai teringat bahwa Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam yang diutus oleh Gusti Allah Ta’ala sebagai rahmat bagi semesta alam menganjurkan umatnya untuk menanam pohon, karena apa yang dihasilkan oleh pohon, baik dimakan oleh manusia atau makhluk lainnya, dicatat sebagai sedekah bagi si penanam.
Demikianlah, pagi harinya yang mana hari libur kerja, ia pergi untuk membeli beberapa pohon buah. Setelah mengajak adiknya menanam beberapa di pekarangan rumah, karena agaknya tidak ada tempat lagi, ia memberikannya ke para tetangganya yang tampak amat senang menerimanya. Sementara itu benaknya membayangkan: kelak boleh jadi burung yang telah menanam pohon salam tersebut atau setidaknya keturunannya turut menikmati manfaatnya.
Kesugihan, 14 Muharam 1446.
*Cerpen peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024.

Matap! Tapi dialognya (kalimat langsung) perlu ditambah, kayaknya,,,🙏🙏🙏👍👍👍