Maka bagi kita yang adalah santri, yang mungkin rentan juga menghadapi gelombang “politik identitas” di ranah pusat maupun lokal, baiknya kita “bersanad” pada kiai kita dan kepada tntelektualitas kita sekaligus.
Pun, jika ada terjadi praktik politik identitas di sekitar kita, maka alangkah baik kembali kepada nalar untuk memeriksanya dengan informasi dan pengetahuan yang lebih luas dan adil dengan tetap berendah hati. Sebab tak perlu ngotot-ngototan dalam urusan duniawi, apalagi politik. Yang legowo saja, toh kebenaran akan abadi sebagaimana kasus kematian Sokrates.

Kita lalu ingat sajak WS Rendra yang terkenal itu berbunyi, “Apabila agama menjadi lencana politik/maka erosi agama pasti terjadi!/ Karena politik tidak punya kepala/Tidak punya telinga/ Tidak punya hati/Politik hanya mengenal kalah dan menang/Kawan dan lawan/Peradaban yang dangkal!//
Sajak tersebut benar-benar terdengar relevan sampai kini. Dan tentu saja dalam baris-baris sajak itu menyadarkan sekaligus mengajari kita bagaimana keluar daripada kubangan politik itu. Apakah namanya politik identitas yang dimainkan kelompok-kelompok tertentu ataukah identitas politik kita sendiri, bukankah yang paling penting bahwa kita adalah hamba dan bukan selainnya?
WS Rendra sebagai pujangga telah memberikan nasihatnya yang amat berharga, tinggal nasihat itu didengar oleh kita atau tidak atau kita telah melupakannya? Wassalam.
