Tak hanya itu, gejala postmodernisme telah merambah ke berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan yang merupakan suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilainya mengalami kegagalan. Modernisme yang berkembang dengan ditandai oleh adanya rasionalisme, materialisme, dan kapitalisme yang didukung dengan perkembangan teknologi serta sains menimbulkan disorientasi moral keagamaan dengan runtuhnya martabat manusia.
Syahdan, akhirnya para tokoh dan pemikir menghadirkan sebuah gagasan baru yang disebut dengan “postmodernisme” dalam rangka melakukan “dekontruksi paradigma” terhadap berbagai bidang keilmuan, sebagai sebuah upaya untuk mengoreksi atau membuat dan menemukan paradigma yang baru. Postmodernisme yang dikatakan oleh Derrida dan Lyotard, merupakan antitesis dari modernisme. Hampir semua istilah yang diajukan postmodernisme adalah antonimasi modernisme. Kelahiran postmodernisme membuat istilah baru dan mengakibatkan perbedaan dengan paham modernisme.

Jika diamati dengan seksama, banyak hal menarik dan bisa diterima dari apa yang ditawarkan oleh pasca-modernisme. Kenyataannya ada dan keberadaannya harus diakui. Soal membawa manfaat atau tidak, kita tak bisa menilai dari satu sisi saja secara langsung, karena selalu ada dua sisi, yaitu apakah baik atau buruk. Kita bisa memeriksa dan mejelaskan apa yang telah diterangkan di atas. Tentu, postmodernisme telah menambah perbendaharaan kita mengenai ilmu pengetahuan.
Pandangan postmodernisme muncul karena menentang modernisme yang dianggap memiliki kelemahan. Namun, bukan berarti postmodernisme terlepas dari adanya kelemahan. Tampaknya aliran postmodernisme ini muak dan lelah akan metanarasi dari era modern. Mereka beralasan bahwa, metanarasi itu bisa mengarahkan kita pada marginalisasi cerita kecil, baik dari kehidupan kita yang nyata sehari-hari maupun secara tradisi (kepercayaan masyarakat akan komunitas setempat).
Sebenarnya, postmodernisme ingin menghilangkan pendasaran umum dan ingin melihat cerita-cerita yang kecil. Cerita-cerita kecil seperti desentralisasi, pertarungan etnis, dekontruksi, sub-kultur, nihilisme, budaya rendah, anarki, pasca-industri, paradigma, kekuatan bersama, sekte-sekte, delegitimasi, dekonsensus, liberalisme, dan diskontinuitas yang merupakan kebalikan atau antitesis dari paham modernisme. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, melainkan karena kurang masuk akal. Sebab, untuk menilai atau menangkap suatu cerita dasar diperlukan suatu dasar pijakan. Karena itu, tanpa adanya kerangka atau dasar pijakan tersebut kita tak bisa bicara apa-apa. Kita juga tidak hanya berpegang pada cerita-cerita lokal atau keyakinan setempat. Sangat sulit tentunya untuk mengambil keputusan dan yang terjadi adalah siapa yang kuat itulah yang akan menjadi pemenang.
Karena apabila pasca-modern menyangkal prinsip-prinsip (metanarasi), maka dengan sendirinya akan muncul prisip-prinsip baru (narasi-narasi kecil). Karena menyangkal prinsip berarti juga berprinsip dan di situlah kontradiksinya. Jika hal ini terjadi mengenai tidak menyakini suatu pernyataan, maka kembali kepada kaum skeptif yang setiap pernyataannya tidak harus ditanggapi benar. Perkataan kaum skeptif bisa dibantahkan. Lalu apa yang harus dilakukan? Maka yang diperlukan adalah dekontruksi kebenaran. Tapi tidak semua dihilangkan bahkan dihapuskan.
