Postmodernisme dan Hidup Kekinian

Cerita-cerita besar itu sangat diperlukan. Cerita besar itu cenderung menjadi sebuah ideologi. Itulah sebenarnya yang harus diwaspadai. Karena banyak cerita besar atau paham-paham besar yang membawa penderitaan bagi umat manusia, misalnya paham komunisme. Paham komunisme bisa membawa penderitaan kepada umat manusia yang mengikuti ketentuannya. Walaupin tujuannya segala sesuatu milik bersama, tidak dimiliki secara individu, tapi paham ini dalam penerapannya menggunakan pemaksaan dan kekerasan kepada para pengikutnya. Tidak jarang juga ideologi-ideologi religius justru membawa kesengsaraan dan membelenggu umat manusia. Maka, di sinilah perlu adanya dekontruksi cerita besar sehingga diharapakan tidak menyeleweng dari misinya yang sejak lama dibawanya.

Pertanyaannya mengapa ideologi perlu didekontruksikan? Sebab ia menyangkal hal cerita kecil. Sementara ideologi itu bersifat mutlak. Benar berarti sesuai dengan ideologi. Yang tak sesuai disikat habis. Dengan kebenaran ideologi, seseorang tidak akan memusnahkannya. Padahal, sesuatu hal bagi postmodernisme tidak mutlak, mereka percaya bahwa kebenaran bersifat relatif. Artinya, harus disesuaikan dengan segala aspek, bukan hanya terfokus pada sisi tertentu saja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karena itu, menurut penulis, dekontruksi sangat dibutuhkan dan bahkan perlu, tetapi haruslah jeli dan butuh pemikiran yang cerdas untuk mengawasi dan mengkritisi cerita narasi yang perlu didekontruksi. Pasca-modernisme, kita akan menjadi kurang cerdas jika menganggap semua cerita besar itu perlu didekontruksi. Sayang, pasca-modernisme tidak mampu melakukan hal seperti itu. Dekontruksi yang sebenarnya, kata Franz Magniz Suseno, adalah meganalisis dengan teliti. Di sini cerita atau narasi yang besar itu benar. Cerita tentang harkat martabat kemanusiaan. Cerita bahwa situasi apa pun tak pernah boleh untuk dipakai semata-mata sebagai sebuah sarana.

Dengan melihat sisi negatif dari paham postmodernisme itu, apakah postmodernisme harus dihapus atau dibuang. Tentunya yang jelas sisi positifnya tetap ada. Ia telah mengingatkan kepada kita bahwasanya dalam diri kita harus waspada terhadap teori atau cerita atau narasi besar. Jangan sampai mereka berkembang menjadi sebuah ideologi. Jangan sampai ideologi tersebut berlindung di balik teori besar tersebut. Tapi kenyataannya, di balik itu semua ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi. Paham postmodernisme tetap dapat dikembangkan dan dapat dipercayai, asal ia tidak memutlakkan prinsip dia sendiri dengan menghilangkan prinsip orang lain. Karena segala sesuatu itu perlu diteliti atau bahkan koreksi dan dipertanyakan apakah ia benar berjuang demi menegakkan martabat dan kebahagiaan manusia yang lebih besar.

Tak hanya itu, yang perlu kita kembangkan dan kita tegakkan dari paham postmodernisme, adalah sikap kita yang saling menghargai manusia sebagai indivu-individu dengan segala keunikan dan keberagamannya yang meliputi kelemahan dan kelebihan. Bukan mempermasalahkan keberagaman. Tetapi, bagaimana hal itu menjadi suatu kegembiraan dan ciri khas terhadap apa yang dimiliki. Dengan menyadari hal tersebut, postmodernisme memberikan suatu hak untuk menyuarakan pendapatnya dan ia terus menjalankan sifat emansipatorisnya.

Dengan demikan, kita harus memegang keduanya, baik yang universal maupun yang lokal. Tentu yang tak kalah penting adalah sikap menghargai cerita atau teori dan narasi besar yang memang memperjuangkan martabat manusia tak terkecuali juga menghargai cerita-cerita kecil, seperti pluralisme dalam keanekaragaman sebagai tanda penghargaan manusia-manusia individu tersebut. Maka dengan demikian kehidupan kita akan lebih menjadi tercerahkan dan damai.

Tinggalkan Balasan