Salah satu peserta kunjungan, Iim Halimatussa’diyah, peneliti dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengenalkan praktik pesantren ramah lingkungan kepada para peserta dari pesantren-pesantren lain di Jawa Timur. Menurutnya, Annuqayah bisa menjadi model yang layak untuk direplikasi.
“Ketika pertama kali masuk ke pesantren ini, saya melihat betapa banyak dan beragamnya pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya,” ungkap Iim saat ditemui di Laboratorium sampah.

Ia menyebut keberadaan pohon jati, mengkudu, hingga salak sebagai bukti bahwa pesantren ini hidup berdampingan erat dengan alam.
Selain itu, ia juga tertarik mempelajari lebih jauh sistem pemilahan sampah di Annuqayah. Ia menyebut bahwa di Lubangsa, pengelolaan sampah didasarkan pada prinsip unik—sampah diperlakukan sebagaimana santri: tidak boleh keluar dari lingkungan pesantren.
