Ini belum termasuk al-Hallaj yang mengakhiri denyut nyawanya di tiang gantungan, Dawud ibn Ali, Ya’kub Bin al-Fadli, dan ratusan lainnya yang terkena tuduhan zindiq di masa khalifah al-Mahdi dan penggantinya, khalifah al-Hadi. Mereka yang dituduh zindiq itu harus mengakhiri hidupnya di depan para hakim seperti Abd Jabar Al-Muntasib, Umar al-Khaluzi, dan Muhammad Abu Isa al-Hamdawaihi.
Kitab sejarah Tarikh al-Thabari, al-Wuzara wa al-Khutob, dan antologi puisi arab terpanjang (6 jilid, 2.401 halaman) al-Aghoni menyebutkan bahwa tuduhan dan penghakiman terhadap kaum zindiq dan penyair itu bukanlah persoalan agama atau ke-zindiqan itu sendiri, tetapi hampir murni persoalan politik. Para khalifah memanfaatkan ke-zindiqan itu sebagai sarana untuk membasmi musuh-musuh atau lawan-lawan politik mereka, terutama dari kalangan Hasyimi.

