Prisma Pemikiran Gus Dur (1): Anomali Sang Wali

Mereka Lalu Membuat Surau adalah lukisan etnografis tentang keruwetan administrasi, kesulitan lapangan kerja, keterbatasan privilledge sebagai “minoritas”, perjuangan menikah dengan saudara sebangsa-seagama, hingga mencari tempat aktivitas dan kerentanan sosial sejenis yang dialami kelompok kecil bernama “mahasiswa muslim”. Di bagian penutup Gus Dur menulis:

“Setiap warga kelompok kecil perantau itu memberikan subangan tenaganya, di samping dana. Ada yang mengerjakan pembuatan dinding, ada juga yang memasang pipa ledeng. Sementara yang lain bertukang, juga memasang instalasi listrik. Jam-jam yang begitu dihargai dengan upah sekian puluh gulden kalau bekerja di pabrik, diberikan cuma-cuma. Dengan begitu, tercapailah titik kulminasi yang melambangkan pola kehidupan mereka selama sepuluh tahun di rantau orang: membuat mushala. Kiprah yang indah. Seindah kiprah rakyat kecil.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tahun 2016-2019, populisme (Islam) meledak di Indonesia. Sebabnya tidak lain berakar dari perasaan keterpinggiran umat muslim dari kue ekonomi dan politik. Maka muncullah sentimen antagonistik terhadap identitas liyan, seperti Kristen dan Cina yang identik sebagai kelompok kaya. Eropa juga mengalami hal serupa. Hanya beda formasi identitas. Di Eropa, orang kulit putih merasa terancam secara kultural dan ekonomi karena banyak muslim dan migran yang mulai memenuhi negara mereka.

Bertanggal 5 Februari 1983, esai Mereka Lalu Membuat Surau itu ditulis. Dengan kata lain, esai ini pada dasarnya menggambarkan Gus Dur sedang memetakan faktor-faktor populisme seperti perubahan demografi (kependudukan dan ketenagakerjaan), perasaan keterpinggiran, eksklusi struktural, perasaan keterancaman, partikularisme, dan keterasingan. Jadi, ekspansi situs keislaman tidak selalu mengindikasikan hal positif, tapi bisa juga berkorelasi erat dengan masalah sosial yang mungkin sedang bergejolak di baliknya.

Dua esai yang telah diuraikan menyiratkan bahwa ada pengaruh referensi [musik] dan sudut pandang yang berbeda terhadap cara Gus Dur menempatkan posisi dirinya dalam membahas suatu isu, sehingga mengantarkannya pada kesimpulan-kesimpulan yang boleh jadi kontras dengan umumnya orang bila menyandang predikat kiai.

Di esai Qasidah tersemat selera musikal ala Eropa, di samping juga adanya pengaruh pertemanan Gus Dur dengan lingkaran seniman ―yang diceritakan di bagian pembuka dari esai Qasidah. Sedangkan, di esai Mereka Lalu Membuat Surau, terlihat bahwa Gus Dur menempatkan diri sebagai orang ketiga, yang seakan terpisah dari identitas yang sedang dibahasnya (Islam), sehingga mampu melihat pola-pola makro yang kemudian dinarasikan secara etnografis.

Tinggalkan Balasan