Prisma Pemikiran Gus Dur (1): Anomali Sang Wali

Tiga predikat yang paling awal disebutkan, agaknya punya nilai tersendiri yang saling berkaitan. Sementara satu predikat yang belakangan disebut, dapat diperdebatkan. Dua orang dengan afiliasi yang berbeda dapat saling memperdebatkan antara keutamaan intelektual Islam dan keutamaan intelektual Barat, misalnya.

Greg Barton pernah menilai, Gus Dur adalah sebuah anomali: tak ada di dunia ini yang satu sisi diagungkan sebagai wali, tapi di lain sisi juga dipuji sebagai pemikir liberal. Predikat wali dan pemikir liberal adalah dua kutub yang di tengah-tengahnya memuat keragaman spektrum lain yang bisa dijelajahi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Misalnya, predikat Gus Dur sebagai kiai. Predikat kiai identik dengan posisi yang selalu suportif terhadap nilai-nilai dan ekspansi situs keislaman. Tapi dalam esai Qasidah (1982) dan esai Mereka Lalu Membuat Surau (1983), Gus Dur menempatkan dirinya pada posisi yang kontras.

Musik Islam umumnya disorot berdasarkan muatan ideologi dan doktrinnya. Sorotan yang kadang menumbuhkan pujian ataupun pembelaan nyaris fanatis. Di esai Qasidah, Gus Dur meninjau ulang apakah musik Islam cukup representatif untuk merepresentasikan umat Islam kalau hanya mengedepankan aspek ideologi dan doktrinnya, sementara mengabaikan ―misalnya― aspek kualitas sastrawi lirik dan teknik komposisi? Di esai Qasidah, Gus Dur menyatakan testimoninya yang bersebrangan dengan fanatisme ideologis ataupun doktrin:

“… Juga lirik Arabnya, yang tidak dimengerti bangsa kita, salah informasi. Belum lagi diingat mutu suara penyanyinya, yang tampak tak pernah dibekali pengetahuan teoritis tentang musik dan latihan menyanyi di tangan ahli … Penulis sendiri tidak lagi pernah dapat lepas dari pengaruh lagu ini [Fairuz- A’tini an Naya], yang judul Indonesianya berbunyi ‘Berikan Padaku Seruling’ yang sudah berusia dua dasawarsa. Seperti juga penulis tidak lepas dari karya Beethoven dan Bach yang terasa membawakan keagungan dan kebesaran Tuhan … Yang jelas, penyajian acara qasidahan sebagai representasi ‘musik Islam’ dalam bentuknya yang sekarang memang harus ditolak.”

Selain di isu musik, fanatisme juga kerap melekat pada situs keislaman: ekspansi situs keislaman seperti masjid atau musala kadang dipandang sebagai indikator maju atau tidaknya Islam. Esai Mereka Lalu Membuat Surau bercerita tentang diaspora mahasiswa muslim yang kuliah di luar negeri yang bergairah mengembangkan dan “menghidupkan” agamanya, tapi di saat yang sama juga bingung mencari posisi sosial dalam masyarakat asing.

Tinggalkan Balasan