PUAN YANG BERPUASA (1-SUNDAL)
Sehari kemarin, di keramaian bordil (cakela) tak kulihat lenggak-lenggok Marni.

Tak biasanya.
Kudengar desas-desus, ia mendapat telepon dari Ramadan yang telah tiba di depan rumahnya.
PUAN YANG BERPUASA (2-KARLOTA)
Telinga ibu-ibu tetangga sungguh besar tiada dua.
Menakutkan: mampu menjangkau bisikan paling jauh; paling kecil.
Setelahnya, tak akan ada yang selamat dari mulut berbusa para tetangga itu.
Tapi ketika bulan puasa tiba, konon suami-suami mereka mendadak lebih beringas: barangkali menyadari kegagalan menjaga mulut istrinya. Atau barangkali sebenarnya mereka sedang sibuk mengumpulkan gosip untuk dijual besar-besaran di hari raya.
Sejenak ini kabar baik; setidaknya, suara anak-anak tertawa lepas bisa mengganti lonceng ghibah di sore hari — tapi tak abadi. Ramadan tak pernah memperpanjang waktu kunjungan. Ia hanya datang sekali; sebulan dalam setahun.
Setelahnya–telinga dan mulut para ibu yang dipenjara itu–akan bebas mencuri dengar dan menjual gosip lagi.
