PUAN YANG BERPUASA (4-DI KURSI PANAS PEJABAT)
Barangkali jika Ramadan tiba, ajang perebutan kursi panas di bangunan megah itu bisa berganti dengan perebutan duduk di majelis taklim; syahdu melihat surga yang memukau. Atau duduk bersama keluarga di masjid; khidmat betul melupakan keributan duniawi semata.

Barangkali jika Ramadan tiba, beberapa puan yang bertaring di hadapan publik,
hendak sedikit saja melihat rumahnya yang berdebu. Surga mengintip malu-malu di sana–mengajak kerinduan keluarga bermuara pada stoples nastar–syahdu Ramadan.
Memang tidak ada yang keliru jika puan berdiri gagah di podium.
Tapi perlu sedikit lebih jeli untuk melihat ia sebagai manusia:
Selain di atas podium itu, ia tetaplah perempuan hebat untuk peluk ternyaman keluarganya.
Bukankah kontestasi politik kerap mengerdilkan ia sebagai perempuan?
Maka lihatlah, pelukan keluarganya selapang Tuhan memberkati hamba-hambanya di bulan Ramadan.
ilustrasi: lukisan williem de kooning.
