Lain waktu, ia juga juga pernah diambil oleh penguasa Belanda, bernama Tuan Petor. Puang Kali Malunda disangka keturunan Belanda. Beruntung, orangtuanya bisa membuktikan bahwa Puang Kali Malunda adalah keturunan pribumi.
Belajar Ilmu Agama

Budayawan Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, mengungkapkan, Puang Kali Malunda pada waktu remaja menuntut ilmu agama di Pulau Salemo, salah satu pulau yang menjadi pusat perdagangan di Selat Makassar dan banyak menghasilkan ulama kharismatik. Di antaranya Imam Lapeo, Annangguru Saleh, dan Ambo Dalle (Ridwan, 2013).
Setelah belajar di Pulau Salemo, ia melanjutkan memperdalam ilmu agama di Mangkoso, di Pambusuang, dan di Lapeo.
Merujuk pada “Galeri Mandar Indonesia”, Puang Kali Malunda saat berada di Lapeo menerima ilmu tarekat dari KH Muhammad Tahir, seorang ulama sufi yang dikenal dengan sebutan Imam Lapeo atau To Salama (orang selamat).
Puang Kali Malunda dikenal sebagai seorang ulama yang sangat mencintai ilmu agama. Suatu ketika, ia menjual 40 kerbau untuk membeli 1 kitab istimewa. Konon, kitab tersebut hanya dimiliki oleh tiga orang di Sulawesi, yaitu Syaikh Hasan, Ambo Dalle, dan Puang Kali Malunda.
Pengabdian
