Mari kita coba lihat di ruang-ruang publik: di kafe, ruang tunggu, bahkan masjid sekalipun—jarang sekali orang benar-benar diam tanpa menatap layar. Setiap jeda dua menit, tangan otomatis merogoh ponsel, bukan karena penting, tapi karena tubuh menagih “hadiah” kecil dari notifikasi.
Fenomena ini tidak hanya soal kebiasaan, tapi juga kesehatan mental. Penelitian menarik oleh Chen et al., (2024) menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari bermain media sosial berisiko terhadap masalah kesehatan mental terutama masalah internalisasi diri. Bentuknya bisa bermacam-macam: cepat bosan, mudah gelisah tanpa sebab, sering marah tanpa alasan, dan kesulitan tidur meski tubuh lelah.

Ada fenomena menarik di pesantren di mana santri-santri yang baru mondok sering gelisah di minggu-minggu pertama karena tak boleh membawa HP. Tangannya refleks mencari HP yang biasa di sakunya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai bisa terbiasa dan tenang. Bisa membaca kitab cukup lama, serta kelihatan lebih ceria.
Itu bukti sederhana bahwa otak manusia bisa sembuh—asal diberi kesempatan untuk istirahat dari dopamin instan.
Santri dan Tradisi Fokus Panjang
Pesantren, tanpa banyak teori, sebenarnya sudah lama memiliki resep alami untuk detoks dopamin. Tradisi sorogan, bandongan, bahtsul masail, dan riyadhah mengajarkan santri untuk fokus dalam waktu panjang.
Mereka membaca kitab dengan huruf kecil tanpa spasi, mendengarkan penjelasan kiai dengan penuh perhatian, lalu mendiskusikan maknanya hingga larut malam.
Tidak ada algoritma, tidak ada notifikasi. Yang ada hanyalah proses panjang yang melatih ketekunan, kesabaran, dan kemampuan berpikir mendalam. Setiap lembar kitab yang dibaca adalah latihan menunda kenikmatan, mengganti “cepat puas” dengan “pelan tapi paham”.
Di sinilah letak keindahan dunia pesantren: ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga mengembalikan keseimbangan batin di tengah dunia yang serba cepat. Santri belajar menikmati diam, menata napas, dan menghayati arti waktu.
