Sungai Musi terus mengalir
melewati pasar, dermaga, dan gedung pemerintahan
membawa rahasia yang tak pernah usang:
bahwa setiap bangsa yang lupa pada air asalnya,
akan haus selamanya.
JEJAK DI BATU YANG TAK LAGI MENGGEMA
I/ Sebelum Nama Itu Diukir

Sebelum batu itu dipahat
ada doa yang terbang dari hutan ke langit
mencari tempat untuk singgah.
Di antara akar dan tanah basah
waktu belum punya bahasa.
Yang disebut sejarah hanyalah ingatan
tentang siapa yang pertama kali percaya
bahwa batu bisa menyimpan keabadian.
II/ Sang Juru Ukir
Ia datang dari jauh
membawa palu dan keyakinan.
Setiap pukulan bukan hanya kerja tangan
melainkan penaklukan atas diam.
Di matanya, huruf-huruf adalah mata air
yang menolak kering meski abad berpindah.
Ia tahu: kelak batu ini akan retak
tapi suara yang ia ukir
akan menolak padam.
III/ Kerajaan yang Terlupa
