Kini tinggal nama
yang ditulis ulang tanpa saksi.
Orang-orang menyebutnya legenda
padahal ia pernah bernapas
memukul genderang, membangun candi,
dan menyalakan obor di tepian rimba.
Sejarah menulisnya dengan tinta kuasa
bukan dengan darah yang ia tumpahkan
demi membela nama tanah.
IV/ Batu yang Menyimpan Lidah

Setiap prasasti adalah luka yang membatu.
Huruf-hurufnya masih menyimpan getar
meski lidah yang menuturkannya telah menjadi tanah.
Siapa yang kini mengerti
bahwa bahasa adalah bentuk paling tua dari perlawanan?
bahwa menulis adalah cara melawan lupa
dengan kesunyian?
V/ Setelah Nama Itu Luntur
Hujan turun seperti penghapus yang sabar.
Batu-batu berlumut, tetapi gema doa di dalamnya tetap hidup.
Sejarah mungkin berpindah tangan
tetapi maknanya akan selalu kembali
kepada mereka yang berani menafsir.
Karena sejatinya
yang abadi bukanlah nama
melainkan keyakinan untuk mengingat.
Sumber ilustrasi: threads.com, irmaprastiwi.
