Filsafat Jawa: dari Kentut Semar hingga Nawaruci

Ketika kata “filsafat” terdengar, pastilah peradaban Yunani kuno yang pertama kali tergambar dalam pikiran kita. Padahal, setiap peradaban, wilayah, dan kelompok memiliki falsafahnya sendiri sebagai prinsip pembimbing dalam kehidupan mereka, termasuk Jawa.

Meminjam Alegori Goa milik Plato, filsafat bisa diintuisikan sebagai proses abstraksi yang bertolak dari realitas untuk kembali (guna mencerahkan) realitas. Filsafat adalah upaya bangkit dari bawah, dunia bayang-bayang yang gelap di dasar goa, menuju mulut goa untuk keluar, dan pada akhirnya turun lagi ke dasar goa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sehingga, dalam usaha memahami apa yang disebut dengan “filsafat Jawa”, kita harus menerapkan langkah-langkah di atas: keluar dari realitas asal, dan kembali lagi. Realitas asal adalah rakyat – entah dalam arti penderitaan, kebahagiaan, atau apa pun itu yang mencirikan sifat ke-“rakyatan”-nya.

Untuk memperjelas apa yang saya katakan di atas, mari kita kembali menengok dua kisah klasik Jawa yang berasal dari abad ke-15 atau ke-16: Kentut Semar dan Bima Suci (Nawaruci).

Tinggalkan Balasan