Benar katamu, Mir
Bahkan sebelum rambutku memutih
Tembok-tembok beton itu sudah tegak mencakar langit
Berdiri dengan keangkuhan diatas tanahmu yang sendu
Padimu yang biasa kita semai di antara pematang,
sebenihpun tidak lagi dapat kau jamah
Iring-iringan pipit yang begitu menyebalkan’
seekorpun tidak lagi dapat kau panah
Setiap malamku tak tenang, Mir
Berharap laba-laba belang membuat rumah semakin banyak
pada tembok-tembok keangkuhan itu

Tengoklah keberanianku yang kanak-kanak, Mir
Runcing bambu-bambu para kuli menancap di dadaku.
Yogyakarta,2022.
KEPADA MIR (2)
