Setiap kali saya membaca ulang Al-Qur’an, saya merasa seperti memasuki ruang spiritual yang dalam dan tidak terbatas. Di luar tradisi Islam, saya menyadari bahwa kitab suci ini tidak hanya digunakan untuk ibadah, tetapi juga digunakan untuk penelitian ilmiah, khususnya dari akademisi Barat yang disebut orientalis.
Di sinilah saya mulai merenungkan satu hal yang sangat penting: mengapa sikap mereka terhadap Al-Qur’an begitu paradoks, antara kekaguman yang mendalam dan kecurigaan yang tajam?

Sebagai santri yang juga tertarik pada dunia akademik, saya merasa perlu untuk menyelidiki lebih jauh cara orientalis memahami Al-Qur’an. Di antara karya mereka, saya menemukan pujian yang tulus terhadap bahasa dan struktur Al-Qur’an yang indah.
Misalnya, terjemahan Al-Qur’an oleh Arthur J. Arberry yang mempertahankan ritme dan keindahan bahasa. Ia menganggap Al-Qur’an sebagai karya sastra Arab terbaik. Sebagai Muslim, saya pasti bangga. Al-Qur’an tetap menarik bahkan bagi mereka yang tidak menganut iman.
