Tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa kritik terhadap orientalis tidak harus membuat kita anti-ilmu; sebaliknya, itu harus mendorong kita untuk membangun studi Al-Qur’an yang lebih adil, terbuka, dan autentik—berakar dari tradisi kita tetapi tidak takut berbicara dengan orang lain.
Karena Al-Qur’an pada akhirnya bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dihayati, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan nyata, saya percaya bahwa studi Al-Qur’an bukanlah arena konflik antara Timur dan Barat; sebaliknya, itu adalah medan kejujuran, di mana pujian harus diterima dengan rendah hati, dan prasangka harus dihadapi dengan pengetahuan.

Wallahu a’lam.
