Kakeknya merupakan seorang aktifis dalam menulis kritik kepada pemerintah dalam hal perbaikan pengelolaan sungai Nil yang disebabkan limbah yang mengalir ke kota Dimyath. Banyak yang merasakan dampak buruk yang ditimbulkannya, termasuk para nelayan.
Untuk menulis surat tersebut, ia mendiktekan kepada cucunya Aisyah. Secara tidak langsung hal tersebut membuat Aisyah terus berusaha menguatkan uslub tulisannya demi memuaskan sang kakek. Hingga pada akhirnya ia terbiasa dan ahli dalam dunia tulis menulis.

Keahliannya dalam menulis terus ia asah hingga jenjang mahasiswi. Dengan rutin, dirinya aktif menulis naskah dan dikirim ke tim redaksi majalah. Tulisan tersebut dapat berupa cerita, puisi, dan artikel kritis kebangkitan kaum wanita yang mulai tersebar sehingga diangkat menjadi penulis tetap dikoran terbesar Mesir al-Arham tahun 1935.
Untuk menjaga privasinya, ia menggunakan nama pena yakni Bintu Syāthi’ yang berarti Putri Pesisir). Karier menulisnya berawal di sebuah lembaga di Giza. Dari sinilah nama Bintu Syati’ mulai popular dengan banyak melayangkan tulisan di berbagai media massa terkenal di Mesir.
Karier kepenulisannya terus berkembang. Namun kesibukan tersebut tidak serta merta dapat menghambat program studinya. Pada tahun 1939M, Aisyah berhasil menyelesaikan S1 Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab di Universitas Kairo. Kemudian menyelesaikan program magister di Universitas ‘Ayn al-Syams, Kairo.
Skripsinya mengangkat penelitian terhadap karya Abu al-‘A’la al-Ma’ari yang berjudul “Al-Hayāh al-Insāniyah.” Tiga tahun berikutnya, Aisyah mendapatkan gelar magister dengan nilai summa cumlaude dengan judul tesis “Studi Kritik Risalah al- Gufrān.”
Ia menikah dengan dosennya, Dr Amin al-Khuli, pemilik sanggar sastra dan pemikir terkenal di Madrasah al-Umana. Dari pernikahannya ia dikaruniai tiga orang anak. Namun menikah bukanlah satu halangan untuknya dapat melanjutkan studi. Di tahun 1950 telah berhasil menyandang gelar doktoral yang diuji langsung oleh dekan fakultasnya, Prof Dr Thoha Husein.
Pada tahun 1962 Aisyah resmi menyandang gelar profesor dengan menjadi guru besar bahasa dan sastra Arab pada fakultas khusus untuk perempuan di Universitas ‘Ayn al-Syams, Kairo. Tidak sampai di situ, Aisyah juga menjadi guru besar di universitas lain seperti di Universitas Islam Terkemuka Umm Durman Sudan serta Qarawiyin Maroko sebagai guru besar tafsir.
Hidupnya ia habiskan untuk membela agama Allah. Hingga di usia 85 tahun, bertepatan pada tanggal 8 Desember 1998, Aisyah tutup usia setelah mengukir banyak prestasi yang membuat namanya abadi. Lebih dari 40 karya keislaman, kesusastraan, penelitian teks-teks manuskrip, dan sejarah ia tinggalkan.
