Putri Pesisir yang Menjadi Mufasir

Karya Tafsirnya

Ketertarikan Aisyah dalam kajian Al-Qur’an dimulai sejak pertemuannya dengan Amin al-Khuli. Di tahun 1960 an, al-Khuli wafat sehingga Aisyah diselimuti duka mendalam. Hingga menulis novel roman. Ia menulis novel otobiografi berjudul ‘Ala al-Jisr. Kata al-jisr yang berarti jembatan. Novel itu menunjukkan bahwa cinta mereka bagaikan jembatan antara gadis kampung dengan seorang pemikir besar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maha karyanya spektakuler dalam bidang tafsir adalah Tafsir AL- Bayān li Al-Qur’ān Al-Karīm. Dalam tafsir ini Aisyah menggunakan pendekatan linguistik atau sastra bahasa. Tidak seperti tafsir pada umumnya yang menggunakan urutan surat dalam Al-Qur’an (tartib mushafi), tafsirnya justru menyesuaikan dengan kronologi turunnya Al-Qur’an (tartib nuzuli).

Bintu Syati’ memilih 14 surat pendek untuk dijadikan bahan tafsir. Jilid pertama terdiri dari 7 surat, yaitu surah al-Duhā, surah al-Insyirāh, surah al-Zalāzlah, surah al-Nāzi’āt, surah al-Balad, dan al-Takātsur. Jilid pertama ini dipublikasi pada tahun 1962. Kemudian dicetak ulang pada 1966 dan 1969.

Kemudian, jilid kedua juga terdiri dari 7 surat pendek, yaitu al-Alaq, al-Qalam, al-‘Asr, al-Fajr, al-Humazah, dan al-Mā’ūn. Jilid kedua ini diterbitkan pada 1969 dan memperoleh sambutan luar biasa dari publik.

Dalam pendahuluan tafsirnya, Aisyah memberikan pengantar yang berisi penjelasan terkait surat yang akan ditafsirkan. Hal ini dilakukannya untuk memberi kemudahan bagi pembaca dalam memahami tema pokok dari surat dalam Tafsir Bayāni li Al-Qur’ān Al-Karīm, yakni dengan berusaha menafsirkan surat pendek secara bayani dan mukjizatnya yang kekal. Ia berusaha semaksimal mungkin

Adapun latar belakang kepenulisan tafsir ini, agaknya erat kaitannya dengan keluarga, pendidikan, dan karier yang melingkupi seorang Aisyah Bintu Syati’. Ia mengungkapkan keresahan dalam mukadimah hingga pada akhirnya kitab tafisr ini menjadi sebuah karya monumental.

Setidaknya terdapat tiga faktor penyebab dari keresahannya tersebut. Pertama, Aisyah melihat bahwa para sastrawan hanya memusatkan kesusastraannya pada terks-teks syair, puisi, pidato, dan sejenisnya. Padahal, menurutnya, titik tertinggi sastra berada pada Al-Qur’an, karena Al-Qur’an sebagai kitab terbesar yang dimiliki bangsa Arab, jelas kemukjizatannya, bersifat jelas dan kekal, dan perumpamaan yang terdapat di dalamnya sangat tinggi. Oleh karena itu, jika seseorang ingin mengetahui keindahan sastra Arab bisa didapat dengan memahami keindahan sastra Al-Qur’an.

Kedua, ia melihat sedikit sekali mufasir yang menggunakan pendekatan sastra bahasa Arab dalam penafsiran. Sebagian tafsir masih taqlid dan mengambil atsar dari para pendahulu sehingga hasil penafsirannya sama dengan para pendahulunya.

Tinggalkan Balasan