Quo Vadis Diskursus Keislaman UIN

Sebagai kampus Islam, mahasiswa yang melanjutkan studinya ke UIN pasti lebih banyak yang berlatar belakang pendidikan pesantren atau Madrasah Aliyah. Dapat dipastikan, mahasiswa ini hendak lebih memperdalam ilmu agamanya di universitas.

Namun, dengan kondisi UIN yang seperti sekarang ini, tak ayal jika mahasiswa santri ini merasa lebih baik di pesantren daripada di UIN. Sebab, pesantren saat ini dapat dikatakan lebih transformatif dan terbuka terhadap isu-isu keislaman kontemporer. Dibandingkan dengan kualitas mahasiswa UIN dalam memahami serta mengaplikasikan teori yuriprudensi Islam, para santri di pesantren masih lebih baik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal ini telah menjadi keresahan bersama baik dari pihak Pendidikan Tingga Islam Kementerian Agama maupun kampus UIN di seluruh Indonesia. Problematika dekadensi diskursus keislaman ini harus dianggap serius. Sebab, jika dibiarkan begitu saja akibatnya UIN tak lagi dapat berkontribusi dalam pembaruan dan dinamika pemikiran Islam. Lantas apa gunanya label kampus Islam jika tidak memiliki kapasitas keislaman?

Karena itu, perlu kiranya setiap UIN memiliki wadah khusus yang menaungi fokus keislaman. Saat ini bukan lagi soal integrasi-interkoneksi ilmu agama dengan ilmu umum, melainkan kebalikannya. Justru, integrasi-interkoneksi ilmu umum dengan ilmu agama. Pengadaan wadah ini diharapkan mampu mengumpulkan serta mencetak mahasiswa yang benar-benar ahli dalam bidang keislaman.

Tinggalkan Balasan