Demikianlah Hidup…

Keluarga dari pihak Bapak tidak ada yang mengidap lupus. Begitu halnya dari keluarga Ibu tidak ada yang memberikan genetik penyakit autoimun apa pun. Dan saya? Saya didiagnosis salah satu penyakit autoimun kronis, yakni lupus nefritis kelas III bersamaan dengan masa subur karier kepengarangan saya yang tengah bersinar.

Menulis menjadi rutinitas menyenangkan di tengah kesibukan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Meski nekat kuliah jurusan Manajemen, nyatanya diri ini lebih tertarik dengan Sastra daripada bisnis dan keuangan. Tahun 2021 menjadi babak pembuka kerja kreatif saya dengan mengirim cerpen ke surat kabar, hingga pada tahun berikutnya memberanikan diri mengikuti berbagai perlombaan. Barangkali benar, lewat tulisan kita dapat menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi, karena tulisan adalah keluarga yang selalu menerima.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perubahan dalam kehidupan saya dimulai pada bulan Juli 2022, di mana tubuh kian hari makin membengkak. Bersikap abai adalah jurus pamungkas dalam menghadapi pertanyaan dari keluarga maupun kerabat, “wah, makin gemuk, ya?” dan saya tidak mau ambil pusing dengan mengiyakan saja. Namun, demikian itu tidak berlaku bagi naluri seorang bapak yang terus mengkhawatirkan kondisi saya. Karena kukuh ingin membuktikan bahwa saya baik-baik saja, saya mengabulkan permintaan Bapak untuk periksa ke dokter praktik terdekat. Dokter langsung melihat adanya ketidakberesan dalam tubuh saya, sebab tekanan darah cukup tinggi berada di angka 150/90 untuk perempuan yang baru menginjak usia 21 tahun.

Puncaknya, karena bengkak pada tubuh tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik, Ibu memberikan air kelapa untuk saya minum. Entah apa dasarnya, saat itu saya cukuplah menjadi anak yang patuh dan tidak banyak membantah sebab tak ingin berdebat, akhirnya menurut saja. Akan tetapi, keesokan harinya wajah membengkak dua kali lipat dari biasanya. Tanpa pikir panjang, Ibu membawa saya ke puskesmas terdekat untuk cek laboratorium—sebagaimana saran dokter praktik sebelumnya. Hasil berupa protein urine positif 3, darah dalam urine positif 2, dan bilirubin positif 1 mengantarkan saya mendapat rujukan ke rumah sakit umum daerah (RSUD).

Satu bulan menjalani perawatan di RSUD, pelbagai obat-obatan diberikan untuk meredakan gejala, namun nyatanya bengkak masih berdiang di tubuh saya. Di sinilah krisis kepercayaan diri saya mulai goyah. Terlebih ketika berjumpa dengan orang lain, mengikuti Zoom Meeting kuliah yang mengharuskan untuk menyalakan kamera, atau ketika dibesuk kawan-kawan kampus.

“Mengapa saya berbeda?” Pertanyaan itu terus mengakar dalam benak saya. Usia dua puluh satu tahun adalah usia produktif seseorang yang seharusnya dimanfaatkan untuk berkarya sebaik-baiknya. Saya tidak tergiur nikah muda sebagaimana teman-teman seusia yang sudah memiliki momongan. Selain saya belum siap menghadapi ruwetnya kehidupan pascamenikah, saya berprinsip bahwa usia muda tidak datang dua kali. Maka saya ingin usia muda saya produktif. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.

Beberapa bulan saya memutuskan vakum menulis. Dari yang semula tiap minggu setidaknya ada satu-dua karya yang dimuat, akhirnya berbulan-bulan senyap dari kabar pemuatan tulisan di surat kabar. Tidak ada gairah mengolah kata-kata lagi, sebab saya mulai membenci keadaan diri.

Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam masterpiece-nya, Al-Hikam, menyatakan: bisa jadi Allah memberimu suatu anugerah kemudian menghalangimu darinya; dan boleh jadi Allah menghalangimu dari suatu anugerah kemudian Dia memberimu anugerah yang lain.

Tinggalkan Balasan