Radikalisme Versus Ateisme

Sebab Ateisme

Pada abad yang telah lewat, terutama di negara-negara Barat atau negara-negara maju, ateisme berkembang karena agama dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman atau kalah bersaing dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada abad kini, ateisme yang berbiak di negara-negara muslim kawasan Timur Tengah dan sekitarnya rupanya disebabkan oleh hal yang berbeda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga riset dan media massa, beralihnya orang ke ateisme terutama dipicu oleh masifnya pemberitaan tentang perang, pembunuhan, kekerasan, kekejian, pemerkosaan, ujaran kebencian, hoax yang dilakukan untuk dan atas nama agama. Ini juga diungkap dalam sebuah artikel berjudul “The Arab Spring and the Coming Crisis of Faith” yang ditulis Tamer Fouad pada 2012.

Fakta ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya radikalisme telah menjadi “promosi” yang buruk bagi syiar Islam. Dan, ateisme menjadi semacam bentuk “protes” dari kaum muslim pada umumnya terhadap gelombang pasang radikalisme di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya. Ketika, dengan atas nama agama, satu kelompok tertentu memonopoli kebenaran dan memaksakan kebenaran tunggal dengan jalan kekerasan, maka diam-diam banyak orang berpaling ke arah lain: ateisme. Dan itulah yang terjadi di sana setelah adanya gelombang radikalisme agama.

Meskipun, pada mulanya ateisme diartikan sebagai paham yang tidak mempercayai adanya Tuhan, dalam fenomena yang muncul di kawasan Timur Tengah atau negara-negara Islam dimaknai secara beragam. Ada yang benar-benar tidak mempercayai adanya Tuhan. Namun, ada juga yang melakukannya dengan cara melepaskan agama (Islam) yang dipeluknya dan memilih tidak beragama —meskipun mungkin tetap percaya akan adanya Tuhan. Ada juga yang mengartikannya dengan “masa bodoh” dengan masalah-masalah keagamaan. Dengan kata lain, jika menjadi religius harus menjadi radikalis, maka lebih baik tidak.

Ateisme di Indonesia

Tinggalkan Balasan