ilustrasi

LUKA PALING MERIAH

LUKA PALING MERIAH

Tanganmu memegang secangkir puisi racikanku.
Kau minum perlahan tanpa takut kujejali racun asmara.
Seteguk dua teguk kemudian.
Senyum simpulmu lalu, seolah meraba ke dalam imajinasiku bahwa aku harus membuatnya lagi untukmu.
Untungnya aku begitu sukarela.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kuambil kata-kataku dalam dirimu.
Kemudian merangkainya.
Dalam prosesnya, kau memintaku untuk menambahkan sedikit rasa manis.
Aku tertegun, bola mataku terhenyak di wajahmu.
Jari jemarimu menunjuk dadaku.
Aku memahami sesuatu.

Bahwa,
Kau adalah debar dalam dadaku
Mengusik rusuk dan jiwaku
Yang merindukan sebuah dekapan
Barang sepergelangan tangan
Aku kembali sepulang wira-wiri
lalu berpuisi pada hujan sore ini
Menyuguhkan bait-bait patah hati

Gemricik hujan di luar jendela
Mencoba merayu hati yang hampa
untuk mengisinya dengan air matamu.
Aku bertanya pada diri sendiri,

Tinggalkan Balasan