“Coba kaumakan ini,” ibu menjulurkan seiris wortel. Aku menggeleng karena tidak terbiasa maka wortel mentah.
“Ayo coba! Ini hasil irisan pisau ibu, rasanya pasti beda.” Ibu memaksaku, aku pun memberanikan diri mengunyahnya walau dengan hati yang khawatir. Saat kukunyah, aku terkejut dan merasa heran. Wortel yang kukunyah rasanya sangat lezat, seperti mengunyah potongan daging yang berpupur beragam bumbu, kupindah-pindah di antara barisan gigi dan kutahan agar tak segera tertelan demi menahan kelezatan yang ditimbulkan.

“Sungguh sangat lezat! Bagai menguyah daging, Bu!”
“Itu masih wortel mentah, jika dimasak, tentu rasanya akan lebih lezat lagi,” tambah ibu, berpaut senyum lembut. Tangannya masih menggerakkan pisau ajaibnya dengan cepat, membuat potongan wortel itu terus berjatuhan ke dalam mangkuk. Saat kutelan, melewati tenggorokan hingga ke dalam perut, wortel itu kurasakan persis daging sapi yang renyah.
Menurut cerita ibu, pisau ajaibnya itu adalah pisau purba kala yang pernah ada di surga. Mulanya pisau itu tak bergagang, menancap di datar sebatang pohon, sebelum akhirnya diambil oleh Hawa. Suatu waktu, pisau itu pernah digunakan Hawa saat membelah buah, kemudian ia dicampakkan begitu saja di atas rumput, setelah Adam memberi tahu Hawa bahwa di surga segala keinginan tinggal diucapkan, tak perlu menggunakan pisau untuk membelah.
Setelah Adam dan Hawa diusir ke bumi, pisau itu masih tetap berada di atas sehampar rumput; ia baru pindah ke bumi beberapa ratus tahun kemudian, melesap ke dalam tubuh seorang wanita tua yang bertapa di tengah hutan. Wanita tua itu kemudian membawa pulang pisau itu ke rumahnya, dilengkapi gagang dan sabuk logam dan digunakannya mengiris bahan makanan sehingga rasanya sangat lezat.
#
Sebagaimana malam-malam sebelumnya, ibu mengambil pisau itu dengan wajah yang ditimpa rasa cemas. Kali ini ibu tak lagi mengamatinya di bawah lampu. Ia hanya mendekap pisau bersarung itu di dadanya, lalu disembuyikan di balik bajunya, mondar-mandir ke sana kemari seolah ingin menyembunyikan pisau itu di tempat yang aman. Agak lama ia mondar-mandir antara kamar tengah dan kamar samping. Wajahnya semakin layu, bagai daun tua dicekik kemarau panjang. Akhirnya ia menuju pintu samping yang terhubung ke pekarangan. Lekas ia membuka pintu. Setelah melihat keadaan, tangan kanan yang memegang pisau itu diangkat dan ditarik ke belakang, ibu hendak melempar pisau itu ke luar pagar.
“Jangan, Bu!” aku berlari ke arahnya. Ibu terkejut dan segera menyembunyikan pisaunya. Ia sangat panik.
“Mohon jangan buang pisau itu, Bu. Itu pisau warisan. Sumber kelezatan bagi bahan masakan. Masih banyak orang yang membutuhkan itu, termasuk aku. Aku ingin besok atau lusa ibu memotongkan bahan-bahan sayur untukku.”
“Aku khawatir kamu juga sama dengan ayahmu. Ia tak percaya lagi pada kelezatan masakanku. Ia bukan menyanjung, malah memarahiku setiap hari karena menurut ayahmu, masakanku tidak enak,” bibir bawah ibu dilipat ke dalam, ia berurai air mata, bahunya bergetar, isaknya terdengar.
“Sudahlah, Bu! Tak usah nyebut-nyebut almarhum ayah. Mestinya kita berdoa untuknya walau ia pernah menyakiti ibu sekalipun.”
