Ibu memelukku cukup erat hingga kudengar jelas deru napasnya di antara isak yang beruntun. Sebagian air matanya membasahi bahuku.
“Aku trauma dengan pisau ini.”

“Kanapa harus trauma, Bu?”
Aku membuka pelukan ibu, memegang wajah ibu dengan kedua tangan dan menatap matanya dalam-dalam. Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Pelan ia hanya membalikkan badan dan melempar pisau itu ke atas lemari. Isak tangisnya terus terdengar mengetuk kesunyian.
Aku tahu, ayah semasih hidup berwatak keras. Ia juga rajin memarahi ibu. Tak jarang ia mengempaskan makanan dari meja ke lantai apabila makanan itu bukan seleranya. Selanjutnya ia akan menampar atau menendang ibu hingga ibu terkapar lemas di lantai, dilulur debu-debu. Ia akan berbicara banyak hal di depan ibu, sebelum akhirnya pergi entah ke mana, dan baru datang pada dini hari dalam keadaan mabuk, mengunci pintu kamar, lalu ngorok.
#
Aku tak mengira semuanya akan begini. Sore itu, setelah satu mobil polisi bersenjata lengkap mendatangi rumah ini dan beberapa kali menanyakan kematian ayah kepada ibu, ibu langsug mengaku jika ia sendiri yang membunuh ayah. Ibu berterus terang jika ia membunuh ayah dengan pisau ajaibnya itu. Alasannya karena terlalu kesal lantaran ayah selalu memarahinya. Tapi ibu mengaku menyesal atas apa yang telah dilakukannya itu dan ia bersedia dihukum seberat-beratnya demi menebus kesalahannya kepada ayah.
Ibu memperlihatkan pisau itu sebagai barang bukti kepada polisi, tapi ia memohon agar pisau itu tidak dibawa oleh polisi, sebab ibu akan memberikan pisau itu kepadaku sebagai pewaris sah, agar dijaga dengan baik dan digunakan untuk memotong bahan-bahan makanan sebagaimana para tetua terdahulu. Polisi pun memahami itu.
Ibu menangis di depan polisi sambil menunduk, menopangkan kepalanya ke pahaku. Aku pun berurai air mata. Tubuhku gemetar. Aku melihat air mata ibu yang bening seolah butiran cinta tulus kepada ayah meski ia sering disakiti. Sore itu pula, ibu dibawa polisi—mungkin—langsung ke sebuah penjara. Ia melambaikan tangan dari balik kaca mobil, lirih sekali. Wajahnya sangat muram diliputi air mata. Tangisku memuncak, lambaian ibu bagai pisau menusuk dada.
Suatu malam, saat kesunyian menyekap dan hanya menyisakan bunyi detak jam dari atas tembok, untuk pertama kalinya, kukeluarkan pisau itu dari sarungnya, dingin dan berkilau. Dengan tangan yang agak gemetar, coba kuuriskan pada sebuah apel merah di atas meja. Apel itu terbelah. Aku menghidu bau yang ganjil, seperti amis darah. Kuambil seiris dan kumakan. Saat kukunyah, aku seperti mengunyah-ngunyah daging. Aromanya sangat menyengat. Tiba-tiba perutku mual, lalu muntah.
