Ramadan Anak-anak Langgaran

Saat segala peralatan tetabuhan itu selesai dibuat, berarti mereka telah siap menyambut Ramadan. Di setiap langgar atau masjid, biasanya ada belasan anak yang tergabung dalam “geng ronda” ini. Sehabis maghrib, mereka mulai berdatangan ke langgar-langgar, biasanya dengan menenteng rantang berisi bekal untuk sahur.

Seperti orang-orang pada umumnya, anak-anak langgaran ini, dengan beragam tingkahnya, mengikuti salat tarawih sampai selesai. Setelah itu, mereka juga mengikuti tadarusan bersama orang-orang dewasa. Tadarusan menjadi salah satu momen menggembirakan bagi mereka. Sebab, selama tadarusan itulah biasanya berdatangan beragam takjil —penganan yang kadang jarang ditemui di rumah sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Biasanya tadarusan di langgar-langgar berakhir pukul 12.00. Saatnya mereka berangkat tidur. Beberapa mereka kadang ada yang lebih dulu tertidur. Mereka tidur bergeletakan di lantai musala, seringkali tanpa selembar pun alas tikar atau bantal. Biasanya sekitar pukul 02.00, mereka bangun. Entah siapa yang terjaga lebih dulu dan membangunkan yang lainnya. Setelah berebut cuci muka di jeding, mereka mengambil tetabuhan masing-masing dan siap beronda.

“Buk gedebuk-gedebuk, jreng-jreng… Tek-tok-tek-dung. Tek-tok-tek-dung. Sahurrr! Sahurrrr! Sahurrrr!” dan ronda pun dimulai.

Sambil terus berteriak-teriak “Sahur-sahur-sahur!” dan memukuli semua tetabuhan dengan irama seenaknya, mereka terus menyusuri jalan-jalan desa. Teriakan bersahutan di antara mereka dan bunyi tetabuhan yang berisik itu sudah pasti akan membangunkan orang-orang yang sedang terlelap. Di antara orang-orang tua mungkin ada yang terbangun sambil tersenyum dan membatin: “Itu ulah anakku.”

Tinggalkan Balasan