Sesekali, di perempatan jalan desa, mereka akan berpapasan atau bertemu dengan “geng ronda” dari langgar-langgar lain. Itu disebut tawur. Ketika itu terjadi, mereka akan adu keras membunyikan tetabuhannya. Teriakan mereka juga makin keras. Kadang-kadang, mereka berlama-lama di tempat tawur itu. Jika itu terjadi, beberapa orang biasanya ada yang keluar rumah untuk menyaksikan atraksi mereka. Suasana semakin ramai. Benar-benar seperti malam festival musik jalanan.
Ronda itu akan berlangsung sampai kira-kira satu jam atau kurang menjelang imsyak. Setiba kembali di langgar, mereka akan lekas menyantap bekal sahur masing-masing. Dengan lahap. Tapi ada kalanya, makanan mereka ada yang basi. Yang sedang sial seperti ini tentu berharap ada teman yang berbaik hati —dan selalu ada yang seperti itu.

Sehabis sahur, mereka akan berjaga sampai subuh, dan kembali tidur bergeletakan di lantai sehabis salat subuh. Selama siang hari, anak-anak langgaran ini hanya sebentar pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, kemudian melanjutkan segala aktivitas atau bermain di sekitar langgar. Menjelang maghrib baru mereka pulang ke rumah lagi untuk berbuka. Setelah itu, sehabis maghrib, mereka akan berangkat lagi ke langgar dengan menenteng rantang berisi bekal sahur.
Begitulah Ramadan anak-anak langgaran tempo dulu. Entah kini.
