Refleksi Harlah Ke-102 NU: Fenomena “NU Remang-remang” di Mandar 

Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya beralih ke pemahaman Islam yang lebih tekstual dan skriptural. Mereka mulai meninggalkan amaliah yang diwarisi dari orang tua mereka.  

Situasi yang demikian ini, menurut Stuart Hall, disebut sebagai dislokasi identitas. Ia mengungkapkan, bahwa keadaan dunia terus bergerak, identitas tidak pernah statis; ia berubah sesuai dengan lingkungan dan pengalaman individu. Dislokasi membuka pintu kemungkinan bagi artikulasi baru, pembentukan identitas baru, dan produksi subjek baru (Laclau, 1990).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan demikian, identitas ke-NU-an di kampung-kampung pelosok Mandar sangat ditentukan oleh pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat.

Ketidakhadiran NU 

Sesungguhnya, hilangnya pengaruh NU bukan semata-mata karena adanya kelompok lain yang “merebut” jemaahnya. Tetapi, karena NU sendiri yang “gagal” hadir dalam membentuk narasi ke-NU-an kepada masyarakatnya.

Pada saat yang sama, masjid-masjid dan musala yang dulu dipenuhi dengan ulama-ulama yang mewakili tradisi NU, kini mulai diisi oleh kelompok lain yang lebih aktif menyebarkan ajaran mereka. Mereka memperkenalkan diri, membangun narasi, bahkan tidak jarang menyerang tradisi-tradisi amaliah NU yang sudah mengakar di masyarakat (Wahid Abdurrahman, 2009).  

Ini bukan sekadar persoalan dakwah, tetapi persoalan kehadiran. Jika NU tidak hadir di tengah-tengah mereka dengan narasi yang kuat, maka wajar jika masyarakat mulai berpaling mencari jawaban ke kelompok lain.

Menguatkan Modal Sosial

Pierre Bourdieu mengungkapkan, sebuah kelompok bisa bertahan, jika memiliki modal sosial yang kuat. Modal sosial itu, antara lain: jaringan sosial, kepercayaan, dan keterikatan antaranggota (W Listiani, 2013).

Jika kita ingin melihat NU kuat di Mandar, maka NU tidak bisa dibiarkan sekadar menjadi bayangan. Ia harus hadir kembali, bukan hanya dalam bentuk ritual, tetapi juga dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran. Untuk itu, kita membutuhkan langkah-langkah konkret yang perlu (segera) dilakukan.

Tinggalkan Balasan