Refleksi Santri di Hari Santri

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”. (Qs. Ali Imran: 103). Ayat ini sebagai indikasi bagi kita untuk bersatu dan tidak bercerai-berai. Mempertahankan negara dari rongrongan penjajah akan mudah kita hadapi, jika kita bersatu padu dan dalam kebersamaan yang saling menguatkan.

Bagi seorang santri, Hari Santri harus dimaknai untuk semakin memperteguh kesadaran diri memberikan yang terbaik bagi bangsa. Terutama identitas sebagai santri terkait etika dan kesopanan. Jangan sampai nilai-nilai kesantrian itu terkebiri oleh ulah santri yang bukan sepenuhnya santri. Sebagai seorang santri, umumnya di tengah masyarakat diharapkan sumbangsih keilmuan yang diperoleh dari pesantren. Setidaknya menjaga diri sendiri dari perbuatan maksiat (keburukan), itu berarti seorang santri telah teguh dalam berjuang. Apalagi kalau berkontribusi aktif sebagai pioner di tengah-tengah masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Refleksi Sebagai Santri

Sebagai santri harus berpegang teguh pada identitas kesantriannya. Mereflkesikan kesantrian di tengah masyarakat dengan memberikan manfaat dan tidak berbuat permasalahan. Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Menjadi manfaat bagi orang lain tidak segampang yang kita pikirkan. Namun, tidak ada hal yang sangat sulit apabila kita berusaha dengan kesadaran untuk berbuat baik bagi sesama.

Menjaga nilai-nilai kesantrian harus dilakukan dengan ikhlas. Jika nilai kesantrian itu dilakukan dengan riya, pamer, pamrih, maka akhirnya akan terjerumus ke dalam kesesatan. Riya adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Hanya karena ingin pujian, agar dilihat orang lain (sum’ah), maka kemudian ia melakukan perbuatan baik atau ibadah. Maka perbuatan yang demikian disebut riya atau sum’ah.

Dalam hal riya, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya. Allah Swt berkata pada mereka yang berbuat riya pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'” (HR. Ahmad).

Santri harus mampu memberikan refleksi positif atas kesantriannya. Selama di pesantren, santri telah diajarkan berbagai norma berkehidupan sosial. Agama mengajarkan, sebagai makhluk santri harus menunjukkan etika yang baik. Jangan sampai setelah terjun ke masyarakat menjadi “sampah masyarakat” atau bahkan menjadi problem maker di tengah kehidupan. Sebisa mungkin kita hindari perseteruan, permusuhan, dan pertikaian. Apa pun masalahnya harus diselesaikan secara baik-baik. Berdiskusi atau bermusyawarah. Kalau dalam bahasa al-Quran “Wa amruhu syuuro bainahum (dan setiap permasalahan mereka, hendaknya mereka bermusyawarah). Hanya dengan cara musyawarah, diskusi, dan urun rembuk, kita akan dapatkan jalan keluar (solusi).

Merefleksikan nilai-santri artinya kita harus mengimplementasikan pengetahuan yang kita peroleh dari pesantren. Menerapkan ilmu terapan maupun ilmu non-terapan agar dapat bermanfaat di tengah kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kita telah berkontribusi positif sebagai santri. Karena refleksi yang kita bawa adalah dialektika kepesantrenan yang kebenarannya sudah absah. Doktrin atau ajaran pesantren telah menjadi dogma yang sejalan dengan al-Quran dan hadits Nabi.

Tinggalkan Balasan